Beratnya Untuk Istiqamah

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Q.S Fushilat: 30).

Sering sekali kata istiqamah kita dengar sebagai anjuran agar kita umat Islam memiliki keteguhan yang tegak, lurus dan konsisten pada ajaran Islam sesuai Al Quran dan Hadist.

Tapi apakah praktek Istiqamah itu segampang pengucapannya. Karena orang yang istiqomah selalu kokoh dalam menjaga aqidahnya dan tidak akan goyang keimanannya dalam menjalani tantangan hidup. Sedangkan segala cobaan pada zaman sekarang semakin besar, baik dari segi ekonomi, hal-hal yang haram dan godaan syaitan lainnya hingga menyekutukan Allah SWT.

Hal itu membuat banyak umat Islam yang ingin teguh di jalan agamanya selalu berdoa dan mencari cara agar dirinya sendiri bisa istiqomah dalam ketaatan. Karena kiranya kita harus sadar bahwa  istiqomah adalah barang yang begitu berharga.

Untuk tetap stabil berada di posisi aman dalam beribadah itu ternyata tidak gampang, karena hati manusia sangat mudah digoda. Padahal dari ilmu agamanya tinggi, sangat shalih, baik, rajin beribadah, memakai pakaian yang menutup aurat dan sebagainya. Namun, setelah beberapa waktu, kondisinya berbalik 180 derajat, menjadi seorang yang malas beribadah, akhlaknya jadi rusak dan perbuatan dosa lainnya.

Bagi saya untuk istiqamah itu butuh perjuangan, karena tidak hanya berhadapan dengan godaan dari orang lain untuk berbuat dosa, tapi juga harus bisa berani melawan godaan dari diri sendiri terhadap kenikmatan duniawi yang sesaat dan membawa kesesatan.

Dimulai dari cara berpakaian yang sesuai aturan agama yakni menutup aurat, melaksanakan kewajiban rukun Islam yakni dari Shalat, puasa dan berzakat, serta hal-hal kebaikan lainnya yang mendapatkan pahala dari Allah, terasa sangat berat dan sulit dilakukan setiap harinya tanpa jeda kalau hati sudah ikut tergoda syaitan. Kalimat istiqamah pun hanya terucap manis di bibir tapi terabaikan makna nya di hati.

Ya awal mula nya kejenuhan untuk teguh diajaran Allah berasal dari hati. Karena hati akan selalu berubah-ubah tidak tetap. Terkadang hati ini lembut, terkadang sebaliknya hati mengeras. Terkadang hati ini bercahaya dan terkadang hati ini gelap. Terkadang hati begitu tawadhu’ dan terkadang berubah angkuh. Suatu saat hati itu sabar, di waktu yang lain hati tak sabar. Suatu waktu hati ini merasa tenang, tapi suatu kali yang lain hati merasa bingung.

Perubahan hati sangat cepat dan terkadang tidak terkendali. Hati bisa merasakan tentram saat bersama Allah tapi hati juga merasa resah ketika menghadap Allah karena ia merasa banyak dosa saat menghadap-Nya.

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan qolb yang artinya bolak-balik. Karena memang sifatnya yang cepat berbolak-balik (berubah).

“Hati dinamakan qalb karena sifatnya yang cepat berubah. Hati itu bagaikan bulu (ayam) yang tergantung di atas sebuah pohon, yang dibolak-balikan oleh angina sehingga bagian atas terbalik ke bawah dan bagian bawahterbalik ke atas.” (HR. Ahmad)

Bahkan dalam hadits lain hati berubah sangat cepat melebihi perubahan air yang sedang mendidih. Rasulullah saw pernah bersabda:

“Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari panci yang berisi air mendidih.” (HR. Ahmad).

Mengapa hati turus berubah-ubah? Sebab, hati merupakan muara dari segala tujuan.  Meskipun hati selalu berubah, ada hal yang tidak boleh berubah, yaitu ketaatan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya. Iman dan taqwa jangan sampai berubah-ubah, karena keduanya pilar kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat kelak.

Berarti apa yang seharusnya dilakukan umat muslim untuk tetap istiqamah? Selain berusaha untuk tidak melenceng dari jalur, kita juga harus berdoa karena kedua hal itu tidak dapat dipisahkan. Kota berhatap Allah berkenan memberikan ketetapan iman, ketaqwaan, keikhlasan, dan berpedonan dengan Al Quran dan Sunnah karena dengan ketetapan hati pada hal-hal ini, merupakan modal awal untuk dapat selalu bersama Allah.

“Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku pada agamamu, Islam. Wahai Dzat Pengubah Kondisi Hati, tetapkanlah hatiku pada ketaatan kepada-Mu.”. (HR. Muslim no. 2654).

Untuk Istiqamah itu berat, karena yang ringan itu Istirahat.

Penulis: Anggota Komisi Infokom MUI Kota Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *