Islam Itu Ramah, Bukan Marah-Marah

Prof. Dr. H. Mohd. Hatta

Ketua Umum MUI Kota Medan

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS Ali Imran 159}

Setiap kita selalu ingin menjadi muslim sejati. Tapi sayang, kita jarang mencari tahu seperti apa karakter muslim sejati. Muslim sejati adalah muslim yang mampu meng­aplikasikan perangai Rasulullah Saw. kehidupannya sehari-hari. Pe­rangainya tersebut yang menge­jawantahkan bahwa Islam adalah agama yang ramah. Agama yang menghiasi pribadi seorang muslim dengan akhlak yang mulia, seperti lemah lembut, rendah hati, penuh cinta kasih kepada sesamanya, mampu mena­han diri dari menyakiti orang lain dan bahkan tak mudah terpancing emosionalnya.

Refleksi muslim sejati yang menggambarkan Islam sebagai agama yang ramah terungkap dalam sabda Rasulullah Saw. yang diriyawatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah Saw, “Berwasiatlah kepadaku!” Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Jangan marah!” Orang tersebut pun mengulang-ulang permohonan wasiatnya berkali-kali. Beliau tetap bersabda, “Jangan marah!” (HR. Bukhari)

Kenapa Rasulullah Saw mem­berikan wasiat cukup dengan satu kalimat, “Jangan marah!”? Bila dite­lusuri melalui firman Allah Swt dan sabda Rasulullah, bahwa gam­pang marah merupakan perbua­tan yang dimurkai Allah dan peluang ber­kum­pulnya segala keburukan. Hal ini bisa dipahami dari firman Allah Swt,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ…

“… dan orang-orang yang me­nahan ama­rah­nya serta me­maafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang ber­buat kebaji­kan.” (QS. Ali Imran: 134).

Ketika kita mampu meredam marah, dikategorikan-Nya sebagai orang yang berbuat kebajikan.

Tapi jika kita gampang marah, dapat dimafhumi bahwa kita menjadi orang yang gemar mela­kukan kejahatan. Bukankah Allah murka kepada kejahatan? Apalagi diperkuat dengan riwayat dari Imam Ahmad yang bersumber dari Abdullah ibn Umar ra, bahwa­sannya ia bertanya kepada Rasulullah Saw., “Apa yang bisa menjauhkan diriku dari murka Allah?” Rasulullah Saw. menja­wab, “Jangan marah.”

Cukup banyak keburukan yang kita terima ketika gampang marah. Kita dapat melihat bagaimana raut muka orang yang marah. Mukanya tidak menampilkan senyum yang membahagiakan, padahal senyum adalah sedekah. Tekanan darahnya dipastikan naik ketika marah. Perkataannya selalu tidak terkon­trol dan bahkan lisannya pun tega me­ngeluarkan kata-kata keji. Se­hingga, ketika kita marah akan me­nampilkan wajah muslim yang bu­ruk. Padahal, Islam sudah menga­jarkan kepada kita untuk selalu ramah.

Marah juga bisa menimbulkan persoalan baru lagi. Jika yang dimarahi tidak menerima, akan lahirlah kedengkian dan niat jahat. Jika dengki sudah mendominasi, tak ayal permusuhan pun terus mun­cul. Persaudaraan pun mulai renggang dan bahkan bisa terputus. Bila dalam kehidupan masyarakat, marah yang membuat hancur lebur­nya hubungan dengan sesama.

Karena itu, sebagai muslim kita mesti mampu mengontrol nasfu atau ego kita. Berusahalah selalu untuk bersikap seperti Rasulullah. Kita pelajari kapan saja Rasulullah Saw pernah marah. Apa sebabnya sampai marah. Bukan sedikit-sedikit kita langsung marah. Seolah-olah Islam adalah agama yang mudah menyulut nafsunya bila disinggung sedikit saja.

Banyak bukti sejarah yang menunjukkan ketika Rasulullah Saw mampu menahan amarahnya dengan menampilkan sifat lemah lembutnya membuat seseorang yang dulunya kafir jadi masuk Islam. Salah satunya adalah Zaid ibn Sa’nah. Ia pernah menagih hutang yang belum sampai jatuh tempo kepada Rasulullah Saw. dengan cara yang kasar dan men­jengkelkan. Lalu Rasulullah Saw. tidak menghadapinya kecuali de­ngan hati yang lapang dan senyu­man. Umar yang melihat sikap Zaid ibn Sa’nah yang tidak sopan ter­sebut membuatnya lang­sung me­nghardik Zaid. Namun Rasulullah Saw bersabda, “Aku dan ia mem­butuhkan selain hal ini Umar. Pe­rintahkan aku untuk mem­bayar hutang dengan baik dan perin­tah­kan dia untuk menagih hutang de­ngan cara baik juga.” Lalu Rasulullah Saw membayar hutang­nya dan menambahkannya sedikit sebagai ganti dari hardikan umar kepada Zaid Ibn Sa’nah. Namun perilaku Rasulullah Saw. inilah yang membuat Zaid Ibn Sa’nah masuk Islam.” (HR. Ibnu Hibban, Hakim dan Thabrani)

Lantas pertanyannya, seperti apa marahnya Rasulullah Saw? Rasulullah Saw sangat jarang sekali marah. Beliau hanya marah ketika larangan-larangan agama dilanggar. Itu pun tidak dilakukan dengan mengungkapkannya lewat ucapan. Kemarahan Rasulullah Saw hanya tampak dari raut wajah­nya. Disebutkan dalam Hadis Sha­hih bahwa Rasulullah Saw. lebih pemalu dari perawan pengi­tan. Jika melihat sesuatu yang tidak dise­nanginya, kami mengetahui­nya dari wajahnya. (HR. Bukhari)

Oleh sebab itu, sebagai muslim hendaklah kita menjaga diri dari marah. Sebab Islam adalah agama yang mengajarkan kepada kebai­kan. Bukan hanya pada kondisi tertentu saja, tapi dalam segala hal. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Sejatinya, Allah SWT me­wajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kamu membunuh (yang dibenarkan syariah), bunuh­lah dengan cara yang baik. Jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kamu mena­jamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan yang disem­belih­nya.” (HR. Muslim)

Maka, berhentilah untuk menca­ci saat ini. Jadikanlah hadis ini sebagai pegangan hidup kita agar tidak mudah marah. Jangan gara-gara pilihan calon presiden kita jadi gampang marahan. Jangan gara-gara kesalahan ucapan sese­orang yang sebenarnya tidak terlalu fatal membuat kita marah dan ikut-ikutan untuk mengejeknya. Cukup­lah untuk memahaminya saja dan juga tetap berbuat baik dengan men­doakan semoga di kemudian hari tidak terjadi kesalahan lagi.

Semoga khutbah yang singkat ini memberikan banyak manfaat untuk kita saat ini. Ingat, Islam ada­lah agama rahmat. Rahmat memberi makna bahwa kasih sayang tetap terus disebar di bumi ini. Mari kita menjadi muslim yang ramah, bukan muslim yang gam­pang marah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *