Banyak Tanah Wakaf di Sumut Belum Punya Sertifikat

Masih kurangnya pemahaman tentang wakaf ditengah masyarakat, mengakibat banyak tanah wakaf di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang belum mempunyai sertifikat tanah. Sehingga berpotensi terjadi sengketa dan bahkan pengalihan status kepemilikan tanah wakaf tersebut.

Hal ini terungkap saat Seminar Istibdal Wakaf Dalam Tinjauan Hukum oleh Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq dan Shadaqah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Sabtu (24/11) di Yayasan Halimatussa’diah Amaliyah Indonesia, Tembung,  Deli Serdang. Hadir sebagai narasumber Ketua MUI Kota Medan, Prof Mohd. Hatta, Wakil Ketua MUI Kota Medan, Hasan Matsum dan Direktur Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq dan Shadaqah MUI Kota Medan, Nahar Abdul Ghani, serta acara dibuka Ketua Panita acara Legimin Syukri.

Dijelaskan Prof Hatta, masalah wakaf sering menimbulkan polemik dan berhadapan dengan hukum formal karena tanah tidak memiliki surat sertifikasi.

“Kalau dari penelitian kami justru baru 25% tanah wakaf di Sumut ini yang memiliki sertifikat tanah,” katanya. Akibat tidak memiliki sertifikat tanah, ungkap Prof Hatta, banyak muncul masalah bahkan pengalihan status tanah yang dituntut dari ahli waris yang telah mewakafkan hingga menjual tanah tersebut kepada pihak lain.

“Di Kota Medan 5 tahun terakhir ini terjadi masalah besar ketika harga tanah sangat mahal sehingga banyak yanah-tanah yang sebenarnya dianggap oleh hukum Islam itu tanah wakaf tapi karena tidak ada alas hukumnya, maka usaha orang tertentu sangat mudah menggulingkan status tanah dengan menjualnya dengan pihak asing dan dijadikan perumahan. Bahkan Masjid yang sebelumnya sudah ada dibongkar dengan alasan tidak diperlukan lagi karena umat Islam nya sudah tidak ada,” tuturnya.

Diungkapkannya, pemahaman umat Islam tentang wakaf masih belum sempurna, karena jika dikatakan tanah wakaf maka yang terbayang adalah tanah kuburan, padahal wakaf bisa dalam bentuk yang lain. Dalam pasal 40 UU no. 41 tahun 2004 tentang Wakaf disebutkan bahwa harta benda wakaf yang sudah diwakafkan dilarang dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

Kondisi ini, kata Hatta lagi, juga disebabkan ketidakfahaman para nazir tentang wakaf. Termasuk saat terjadi sengketa, para nazir tidak mengerti berapa jumlah luas tanah, siapa yang mewakafkan dan minimnya bukti-bukti yang dianggap sah oleh hukum.

“MUI berharap semua nazir dan semua yang menguasai tanah wakaf untuk segera menguruskan sertifikat wakafnyanya,” ucap Prof Hatta.

Hal senada juga dikatakan oleh narasumber lainnya, Hasan Matsum mengatakan bahwa Persentase antara tanah wakaf antara yang bersertifikat dan yang tidak, lebih banyak yang tidak bersertifkat “Pemahaman sebagian umat Islam bahwa kalau sudah dibilang tanah wakaf maka sudah dianggap hukum pasti. Tapi karena Indonesia adalah negara hukum, maka harus ada hukum tertulis sebagai tanda pengesahan. Untuk itu perlu pola fikir dan pola tindak bahwa tanah wakaf itu harus dimohonkan untuk mengurus sertifikatnya,” kata Hasan.

Banyak tanah wakaf digugat ahli waris dari orangtua yang mewakafkan sebelumnya, sehingga tanah disita pengadilan karena penggugat memenangkan kasus. Sedangkan nazir tidak ada bukti dan saksi serta jadi peluang ahli waris menuntut.

“Maka itu penting sosialisasi ketentuan hukum tentang wakaf dan juga istibdal wakaf. Agar masyarakat tahu bagaimana bertindak seandainya tanah-tanah wakaf secara paksa mengalami perubahan. Meski secara hukum lahan wakaf dapat dialihfungsikan karena kepentingan umum, misalnya tanah wakaf ada di pinggir jalan, bisa saja dipindahkan jika pemerintah hendak melakukan pelebaran jalan,” pungkasnya.

Nahar Abdul Ghani memaparkan Istibdal merupakan solusi akhir bagi harta benda wakaf yang tidak lagi memberikan manfaat dan dampak Istibdal terhadap harta benda wakaf yakni sebagai sarana jaminan sosial umat Islam.

“Istibdal dalam hukum Islam dibolehkan. Dimasyarakat banyak dijumpai kualitas hidup yang masih minim sehingga memang harus diperhatikan, karena kekayaan tidak boleh dinikmati dan hanya berputar diantara orang-orang kaya saja,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *