Al Muhaddis Syeikh Mustafa Al Nadwi Ajak Ulama Berdakwah Dengan Benar

Al Muhaddis Syeikh Mustafa Al Nadwi dari Mesir mengajak ulama untuk berdakwah dengan benar dan sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW. Hal ini disampaikannya saat Muzakarah di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Kamis (6/12) yang didampingi oleh Wakil Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum dan Zulfiqar Hajar.

Dalam paparannya yang diterjemahkan Syeikh M Husni Ginting, mengatakan, umat Islam disuruh untuk berdakwah mengajak dalam kebaikan dan menghindari keburukan. Namun umat juga harus tahu dan mengerti apa yang didakwahkannya dengan mengikuti ajaran ulama-ulama besar yang merupakan pewaris nabi.

“Jadi umat harus berkumpul dan mengikuti ulama yang menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan taat kepada Rasulullah SAW. Ulama yang seperti ini jangan dimusuhi dan unat jangan terpisah-pisah atau Islam akan mudah dihancurkan oleh musuh-musuh yang banyak dan nyata,” ucapnya.

Dilanjutkan Syeikh Mustafa, perintah agar umat mengikuti ulama itu merupakan pesan Rasulullah SAW dengan kriteria ulama yang bersungguh-sungguh melakukan tiga tujuan yakni mengembalikan umat ke tempatnya yakni tarbiyah atau pendidikan yang benar sesuai sunnah Rasulullah dan mengajarkan umat tentang kerohanian untuk membersihkan diri dan taubat kepada Allah SWT.

Kemudian mengikuti ulama yang mempelajari ilmu shahih dan dapat menerangi alam ini serta ulama yang berdakwah untuk Allah SWT.

“Ikutilah ketiga kriteria ulama ini. Apabila ini tidak ada pada ulama, maka akan terjadilah perpecahan umat yang begitu besar,” ungkapnya.

Para ulama juga harus mampu menanggung beban dalam menyiarkan ajaran Islam yang benar sebagaimana beban yang pernah ditanggung Rasulullah SAW dengan berbagai cobaan dan kesusahan dalam dakwahnya. Namun Rasulullah bersabar dan mampu menghadapinya agar umat tetap berada dijalan yang shaleh dan umat Rasulullah mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

Menjawab pertanyaan dari peserta terhadap membedakan ulama yang benar dan tidak, Syeikh Mustafa menyatakan, pilihlah ulama murtabar yakni terkenal, mulia dan terhormat dimata seluruh masyarakat. Kemudian kemampuan ulama dalam menuturkan ilmu fiqih dan ilmu lainnya dengan baik serta umat dapat faham terhadap ilmu-ilmu yang disampaikannya. Mampu memindahkan ilmu nya dengan jalan shaleh dan shahih cara sistem mengajinya.

“Kehadiran ulama itu sangat penting, karena pemahaman Islam perlu diajari dengan guru. Ilmu tanpa guru tidak ada nilainya. Umat harus lebih perhatian terhadap apa yang baik untuk kita di dunia dan akhirat serta jangan sibuk dengan kelalaian kita,” katanya.

Syeikh Mustafa juga berpesan, meski raga kita tidak ketemu dengan Rasulullah, tapi jiwa dan nafas umat Islam harus dekat dengan Rasulullah dengan selalu memanjatkan Shalawat. Rasulullah benar-benar sangat mencintai pengikutnya dan Rasulullah sudah mendoakan agar umatnya diberi kebahagian di akhirat.

“Doa Rasulullah semua diterima Allah SWT. Dan kalau kita sudah dekat dengan Rasulullah artinya Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kita semua, dengan syarat bahwa mendengar wahyu Allah SWT dengan hati, hafal dan memahami wahyu Allah serta mengamalkannya dan menebarkan ilmu kepada orang lain,” tuturnya.

Wakil Ketua MUI Kota Medan, Hasan Matsum menyambut baik kedatangan Syeikh Mustafa Al Nadwi yang merupakan ahli hadis bernasab atau keturunan dari para ulama hadis sebelumnya.

“Sekarang sudah semakin jarang ahli hadis yang bernasab. Mungkin banyak memahami hadis dan menjadi ilmuwan hadis tapi mendapatkannya dari buku-buku hadis atau para guru yang tidak memiliki nasab,” ujarnya.

Jadi kedangan Syeikh Mustafa menegaskan kepada umat bagaimana pentingnya agama dijaga melalui dalil-dalil hadis yang diambil secara bernasab karena sebagaiman dikatakan para ulama bahwa nasab itu merupakna bagian agama.

“Karena kalau tidak ada nasabnya, maka pasti semua orang akan bebas mengatakan apa yang mau disampaikannya tentang agama tanpa dalil,” tutur Hasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *