MUI Medan Himbau Agar Umat Bijak Bermedia Sosial

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan adakan seminar tentang penggunaan Media Sosial (Medsos). Hal ini dilaksanakan  untuk memperkuat dan mensosialisasikan fatwa MUI pusat sebelumnya ditahun 2017 agar umat menggunakan Medsos secara bijak, yakni untuk dapat menunjukkan ajaran Islam yang ramah, bukan marah-marah.

Hal ini dikatakan Ketua Umum MUI Kota Medan yang juga sebagai Keynote Speaker, Prof M Hatta di acara Seminar Islam dan Media Sosial di aula Kantor MUI Kota Medan, Sabtu (8/12). Hadir sebagai pembicara lainnya Supardi dan Moderator Ketua Komisi Infokom MUI Medan Ali Murthado.

Dikatakan Prof Hatta, fatwa penggunaan media sosial itu sangat penting karena melihat fenomena bertambah maraknya intensitas penggunaan medsos yang salah satunya berisikan pornografi dan publikasi berita-berita hoax atau kebohongan.

“MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa terkait hal ini ditahun 2017. Tapi kita melihat belum nampak dampaknya seolah-olah fatwa itu tidak berpengaruh kepada masyarakat,” ucapnya.

Untuk itu lah, kata Prof Hatta, MUI Medan melakukan seminar dan muzakarah ini untuk mensosialisasikan fatwa MUI Pusat nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Nantinya MUI Medan akan melihat dan menambah intensitasnya hukumnya yang berkenaan dengan aplikasi-aplikasi pornografi yang sangat vulgar.

“Jadi kita sengaja melakukan seminar ini dengan mendengarkan hasil penelitian ilmiah dan hasil muzakarah untuk selanjutnya kita keluarkan rekomendasi terkait penggunaan media sosial.

Diketahui, lanjut Hatta, media sosial saat ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat, karena informasi yang cepat, lengkap dan mudah diakses dari media sosial tersebut. Hanya saja, seringkali konten dari media sosial tersebut tidak dapat dibatasi, dan juga tak  lepas dari informasi yang berisi kebohongan atau biasa disebut hoax, lebih jauh bahkan terkadang kita dapat jumpai konten keagamaan berisikan informasi yang salah di media sosial, yang tentunya hal tersebut sangat berbahaya.

Sementara Supardi menuturkan dampak media sosial terhadap moral anak bangsa Indonesia itu begitu besar, khususnya pada aplikasi-aplikasi pornografi seperti bigo live.

“Aplikasi ini berbasis android dan ios yang tujuannya menyiarkan video secara live streaming yang disiarkan secara realtime. Bermarkas di Suntec Tower Singapura, aplikasi di unduh sebanyak 5.000.000 – 10.000.000 di Play Store,” ungkapnya.

Dipaparkan Supardi, dari penelitian yang telah dilakukan di DKI dan Kota Medan untuk penggunaan aplikasi bigo live ini, mayoritas oleh anak-anak berusia 15-18 tahun dengan durasi nonton paling lama 30 menit.

“Ini jadi tanggungjawab semua pihak, tidak hanya orangtua agar lebih memperhatikan lagi dalam penanaman nilai-nilai keagamaan kepada remaja. Tapi juga guru dan organisasi keummatan supaya senantiasa memberikan informasi kepada masyarakat secara luas khususnya para remaja agar menggunakan internet hanya untuk hal-hal yang positif untuk edukasi atau nilai-nilai pendidikan, sehingga dapat meng mengembangkan pengetahuan serta wawasan,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *