Muhasabah MUI Kota Medan Fokus Membangun Keumatan Berbasis Masjid

Dalam penguatan fungsi dan peran ditengah umat Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan akan tetap fokus membina keumatan berbasis Masjid guna mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. 

Hal ini dikatakan Ketua MUI Kota Medan, Prof M Hatta pada acara Muhasabah Akhir Tahun MUI Kota Medan, Jumat (28/12/2018) di Amaliun Convention Hall Medan. Hadir diacara seluruh pengurus MUI Kota Medan, perwakilan MUI Sumut, Prof Asmuni, MUI kecamatan se-Kota Medan dan mewakili Walikota Medan Asisten Pemerintahan Kota Medan, Musaddad serta ormas-ormas Islam Kota Medan. 

Dijelaskan Prof Hatta, MUI Kota Medan sampai ditahun 2018 dan ditahun 2019 mendatang akan fokus membina umat melalui Masjid dengan segala potensi keumatan yang ada melalui Masjid. Hal ini juga diatur dalam Al Quran Surat At Taubah ayat 18, sebagai penguat terhadap potensi masjid terha­dap potensi masjid sebagai basis pengua­tan keumatan. Mulai dari yang bersifat mahdhah, sampai yang bersifat sosial. 

“Umat Islam ti­dak hanya memahami Masjid sebagai sarana spritualistik-simbo­lik, tapi harus melihat masjid seba­gai kekua­tan dasar yang di dalam­nya dimulai hal yang sifatnya ubu­di­yah (ketaatan personalistik) sam­pai pada interaksi keumatan yang lebih konkrit (ta’awanu alal birri wattaqwa walaa ta’awanul alal’itsmi wal udwan). Potensi ini sangat besar jika dipahami umat secara utuh,” ujarnya. 

Ditambahkan Prof Hatta, umat Islam tidak perlu memberi pengko­tak- kotakan terhadap jenis dan model keislaman kekinian, karena secara langsung atau tidak langsung membawa efek dari tahun politik 2019 seolah terjebak dalam ritme permusuhan. 

“Memusuhi sesama yang seolah me­nem­patkan perbedaan itu seperti kekafiran. Inilah yang menjadi sa­lah satu alasan MUI Kota Medan menjadikan Masjid sebagai Khittah bermuamalah. Menguatkan kem­bali potensi ukhwah, dakwah, pe­nguatan keimanan masyarakat,” ucapnya. 

Membangunan keumatan ini, lanjut Prof Hatta, dimulai dari keberadaan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) yang sebenarnya secara organisatoris memiliki peranan penting langsung kepada masyarakat menjadi corong aqidah dan ketaatan. Meskipun tantangan yang dihadapi berkaitan dengan kekompakan pengurus. Tapi BKM dan kenaziran Masjid harus menjadi corong dakwah dan ibadah umat. 

“Potensi BKM inilah yang perlu dige­rakkan sehingga masyarakat tidak hanya terkontaminasi pada peng­kafiran dan memaknai Islam secara sempit, namun lebih dari itu berkontribusi membangun ke­ber­samaan menyatukan idealis­me Islam,” ungkapnya. 

Dikatakannya juga, secara kalkulatif di Kota Medan ada 1700-an masjid dan musholla, maka akan ada sedikit­ny 3400 jenis perwiridan di sekitar masjid tersebut. Dengan begitu, objek dakwah sudah tersedia dan diharapkan dapat langsung menyentuh objek dakwah. 

“Maka melalui kegiatan ini MUI Kota Medan mencari masukan dan evaluasi atas kinerja selama ini terhadap pembangunan umat di Kota Medan. Penguatan berbasis Masjid ini diha­rap­kan memberi ghirah kembali ke­pada umat untuk berada di jalan yang benar sesuai dengan aja­ran Alquran dan Hadist,” tegasnya. 

Dalam kegiatan Muhasabah ini juga, jelas Prof Hatta bertujuan untuk memperat silaturrahim para ulama dan ormas-ormas Islam Kota Medan serta melakukan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dikerjakan oleh MUI kota Medan selama tahun 2018. 

Sebelumnya Musaddad, menyampaikan bahwa pemerintah sangat berharap semoga MUI Kota Medan mampu mempertahankan bahkan meningkatkan peran MUI sebagai payung umat. 

“Kita berharap MUI juga terus membawa po­tensi ukhwah di Kota Medan sehingga mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin dan menjadikan masjid sebagai basis dakwah keislaman,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *