Menahan Hadas Ketika Shalat

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustadz saya pernah menahan hadas ketika shalat karena khawatir akan masbuq atau tidak mendapat shalat berjamaah. Apakah hal tersebut dalam Islam diperbolehkan? Wassalamu’alaikum Wr. Wb (Kusniati, Deli Tua)

Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Sholat merupakan ibadah yang dilakukan seorang hamba kepada Allah, maka harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan syariat dan penuh dengan adab. Melakukan sholat berarti menghadap Allah , tidaklah baik jika saat menghadapnya dalam keadaan tidak siap. Itulah mengapa ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar sholat kita sah dan diterima Allah.

Salah satu syarat sahnya sholat adalah terbebas dari hadas, artinya dalam keadaan suci. Maka jika ada orang yang sholat tapi dia tidak suci, maka sholatnya tidak sah. Dan jika ada orang yang ketika sholat lalu membuang hadas kecil (kentut) maka sholatnya batal. Lalu bagaimana jika kita suci namun dalam keadaan sedang menahan hadas (misalnya menahan dari kentut, buang air kecil atau besar) maka hukumnya adalah  makruh.

Makruhnya menahan hadas ketika sholat termaktub dalam kita Al-Jami’ush Shaghir karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, ada sebuah Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ummul Mu’minin Siti Aisyah r.a sebagai berikut:

لَا صَلَاةِ بِحَضْرَةٍ طَعامٍ وَلاَ هُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبثاِن

Tidaklah sempurna shalat di hadapan makanan dan tidak sempurna pula shalat jika ia menahan dua hal kotor (Buang air kecil dan besar)

Kemudian Syeikh Ali AlAzizi mengomentari/memberikan syarah hadits tersebut dalam kitabnya As-Sirajul Munir Syarah Al-Jami’ush Shaghir mengatakan bahwa shalat pada waktu itu (menahan hadas) hukumnya makruh tanzih dan dalam Isyadul I’bad juga ditegaskan oleh Syeikh Zainuddin Al-Malibari yang mengatakan:

وتنْزيهاًصَلاةٌ بِمَدافَعَةٍ حَدَثٍ

 “ ..dan hukumnya makruh tanzih bila shalat sambil menahan hadas

Jadi menahan hadas ketika sholat tidaklah sampai membatalkan sholat, hanya saja akan lebih baik jika sebelum melaksanakan ibadah kita bersiap terlebih dahulu, salah satunya menunaikan hajat yang kita inginkan agar sholat kita lebih tenang tanpa ada halangan yang membuat suasana hati tidak baik. Sebagaimana Hadits dari Abu Darda yang berbunyi “Bagian dari pemahaman seseorang terhadap agama, dia selesaikan semua hajatnya (sebelum shalat), sehingga dia bisa shalat dan kondisi hatinya tidak terganggu.” (HR. Bukhari)

Wa’alaikumsalam Wr. Wb(Penjawab: Dr. H. Ali Murthado, M. Hum., Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *