Masjid Tempat Membahas Semua Persoalan Keumatan

Masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah melaksanakan shalat, namun Masjid juga tempat membahas semua tentang keumatan, baik yang bersifat mahdhah sampai bersifat sosial termasuk juga politik.

Hal ini dikatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan, Prof M Hatta diacara seminar Politik Umat Islam, yang digelar Lembaga Konsultasi dan Siyasah Syari’ah MUI Medan di Masjid Nurul Ikhwan Medan Johor, Kamis (4/4). Hadir sebagai narasumber Direktur Lembaga Konsultasi dan Siyasah Syar’iyah MUI Kota Medan, Dr Abdul Hakim Siagian dan Sekretaris Lembaga Konsultasi dan Siyasah Syar’iyah MUI Kota Medan Dr Mustapa Khamal Rokan.

Dikatakan Prof Hatta, umat Islam jangan hanya memahami Masjid sebagai sarana spritualistik-simbo­lik, tapi harus melihat masjid seba­gai kekua­tan dasar yang didalam­nya dimulai hal yang sifatnya ubu­di­yah (ketaatan personalistik) sam­pai pada interaksi keumatan yang lebih konkrit termasuk bicara politik. Potensi ini sangat besar jika dipahami umat secara utuh.
“Bahkan membicarakan masalah kepemimpinan yang kaitanmya dengan politik islam tidak ada masalah, apalagi ada kaitannya dalam memilih calon pemimpin. Tapi yang tidak boleh itu menjelekkan, memfitnah dan mengadu domba. Kalau menyuarakan tentang memilih pemimpin yang sesuai dengan Al-Qur’an itu boleh,” terangnya.

Sementara Dr Abdul Hakim Siagian, menyatakan, Masjid merupakan sumber informasi keumatan termasuk politik. Sejarah mencatat, Rasulullah SAW menggunakan Masjid bukan hanya untuk tempat beribadah, tetapi juga berfungsi sebagai wadah bagi ummat Islam untuk berdiskusi dalam memutuskan berbagai persoalan penting dan mendasar terkait kepentingan ummat Islam.
“Tentu kita masih ingat fatwa kolonial Belanda yang mendoktrin jangan gunakan Masjid sebagai tempat berpolitik, dan nyatanya sampai hari ini masih banyak pengikutnya. Bahkan disetiap bangun Masjid dibangun juga kuburqn biar berkesan seram,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Calon Anggota DPD RI nomor 21 ini, didasari oleh kajian dan penalaran, hukum Islam merupakan solusi bagi perang peradaban dewasa ini. Saat ini sedang terjadi perang ideologi yang semakin memuncak dan meruncing, dimana walaupun mengusung atasnama HAM, kemanusian, demokratisasi dan sebagainya sesungguhnya pada akhirnya akan terhenti, karena itu semua semu.
“Al Qur’an dan Sunnah tak sekedar bisa member solusi, tapi juga saya yakin bisa menuntaskan semuanya secara menyeluruh,” tegasnya.

Argumentasi untuk mengarah kesana, lanjut Abdul Hakim, dalam lingkup nasional sejarah mencatat bagaimana para ulama yang berjuang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan.
Kemudian, Indonesia disebut Negara hukum, maka harus dipahami, bahwa substansi dan tuajuan dasar adalah keadilan.
“Terminologi ini dua kali di ulang pada sila-sila Pancasila, yakni pada sila kedua dan sila kelima. Ini membuktikan bahwa 100 persen kandungan Pancasila itu diambil dari nilai-nilai ajaran Islam, yakni dari al-Qur’an,” tegasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *