MUI Medan Dorong Umat Islam Membayar Zakat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan mendorong dan menyemangati umat Islam agar selalu melaksanakan kewajiban membayar zakat. Sebab, selain ibadah yang wajib, zakat juga mendekatkan diri kepada Allah serta membersihkan diri dari hartanya.

Hal ini ditegaskan Ketua Umum MUI Kota Medan, Prof Dr M Hatta sebagai narasumber diacara Penyuluhan Kewajiban Zakat Bagi Para Aghniya di Kota Medan Oleh Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq dan Shadaqah MUI Kota Medan, Sabtu (20/4/2019) di Masjid Musabbihin Komplek Setia Budi Indah Medan. Hadir juga sebagai narasumber lainnya Wakil Ketua Umum MUI Medan, Dr Hasan Matsum dan Ketua Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq dan Shadaqah MUI Kota Medan, Dr Nahar A Abdul Ghani.

“Hukum mengeluarkan zakat adalah fardhu ‘ain atas tiap-tiap orang yang cukup syaratnya. Zakat ini salahsatu rukun Islam yang wajib dilaksanakan, sehingga tidak ada alasan bagi umat untuk mengeluarkan zakat,” ujar Prof Hatta.

Dijelaskannya, zakat merupakan ibadah wajib dan bagian dari kesalehan. Dimana harta adalah anugerah diberikan Allah SWT tapi cobaan dan guncangan begitu besar sehingga Allah memberi pedoman dengan mewajibkan umat untuk mengeluarkan zakat.

“Zakat ini bermanfaat juga untuk kesejahteraan ekonomi umat karena zakat-zakat yang diberikan umat Islam dapat disebarluaskan ke umat Islam lainnya yang membutuhkan dan bermanfaat,” ucapnya.

Narasumber lainnya, Dr Hasan Matsum menyatakan, tugas umat Islam saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan dan itulah misi MUI sebagai salah satu pilar tegaknya agama Islam yang langsung diperintahkan Allah SWT.

“Terkadang masih saja umat menilai bahwa zakat ini tidak selevel dengan ibadah shalat. Padahal ibadah keduanya hukumnya sama-sama fardhu dan inilah yang harus didakwahkan bersama,” ungkapnya.

Dipaparkannya, untuk syarat harta yang wajib dizakatkan juga sudah diatur termasuk juga orang yang menerima zakat.
“Hikmah zakat itu untuk sarana pengendali keseimbangan sosial agar
harta itu jangan bergerak diantara orang-orang kaya saja. Itulah beda kapitalis, sosialis. Ekonomi Islam sangat luar biasa yakni ada kapitalis tapi ada hak yang dikenali atau hak orang lain didalamnya untuk dikeluarkan. Kemudian zakat sebagai sarana mensucikan diri dan harta yang terkena zakat,” ucapnya.

Sementara Dr Nahar dalam materinya zakat membangun kehidupan masyarakat menyatakan, manfaat zakat itu sangat besar baik bagi Muzakki atau orang yang dikenai kewajiban membayar zakat atas kepemilikan harta, juga bagi Mustahiq yakni orang yang berhak menerima zakat dan juga untuk masyarakat umum.

Sebelumnya Ketua Panitia Acara Dr Muhammad Basri, menyatakan, zakat masuk rukun Islam kelima tapi kenyataan di lapangan masih banyak umat Islam yang tidak mau membayar zakat atau membayar tidak sesuai dengan ketentuan.
“Untuk itu melalui penyuluhan ini kami berharap dapat menambah pemahaman dan semangat umat Islam untuk berzakat sesuai dengan ketentuan,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *