MUI Kota Medan Lakukan Penyuluhan Penyembelihan Unggas di Pasar Tradisional

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan menghimbau seluruh pedagang hewan unggas untuk melakukan penyembelihan hewan sesuai syariah Islam. Hal ini sebagai proteksi agar umat sebagai konsumen aman dalam mengkonsumsi produk pangan yang halal thayyiban.

Hal ini ditegaskan Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan, Dr Hasan Matsum saat melakukan penyuluhan penyembelihan unggas sesuai syariah oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Medan, di Pasar Tradisional Titi Kuning (Tikung) Medan, Rabu (24/4/2019).

Hadir diacara penyuluhan Sekretaris Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Medan, Dr Muhammad Basri, Kepala Pasar Tradisional Titi Kuning, Herman Harahap dan pedagang hewan unggas.

Dijelaskan Hasan Matsum, sebelum ada Peraturan Pemerintah (PP) terkait Undang-undang Jaminan Produk Halal yang wewenangnya beralih ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), maka wewenang produk halal masih ke LPPOM MUI dan salah satu bentuk tugasnya yakni melakukan sosialisasi ke pasar-pasar modern dan tradisional agar menerapkan syariah Islam dalam melakukan penyembelihan hewan unggas.
“Sosialisasi ini intinya bagaimana kita saling menasehati dan mengingatkan. Karena kita punya kewajiban untuk melindungi umat Islam. Dan bagi pedagang menyediakan produk yang halal dan thayyiban itu merupakan ibadah kepada Allah SWT,” ucapnya.

Dilanjutkan Hasan, pentingnya penyembelihan dalam Islam ini diatur di dalam Al Quran yakni Surat Al Maidah ayat 3 yakni “diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercelik, terpukul, jatuh, yang ditanduk dan diterkam binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan yang disembelih untuk berhala”.

Agama Islam begitu teliti dalam hal mengatur persoalan hidup dan kehidupan manusia termasuk sembelihan. Allah SWT sangat memelihara kesehatan manusia dan tidak menginginkan manusia mengkonsumsi makanan yang membahayakan. “Sehingga Allah SWT menetapkan ketentuan-ketentuan siapa saja yang sah sembelihannya serta bagaimana cara dilakukan agar penyembelihan itu halal dan baik,” katanya.

Diungkapkan Hasan Matsum, untuk syarat-syarat halalnya hewan sembelihan yakni sembelihan tidak termasuk hewan yang diharamkan secara syar’i baik Al Quran dan Hadist Rasulullah Saw. Kemudian, menyembelih hewan unggas wajib menyebut nama Allah SWT, memenuhi ketentuan syar’i dimulai dari orang yang menyembelih, tata cara, alat penyembelih dan hewan yang disembelih.
“Untuk penyembelihan dengan stunning (pemingsanan) yang biasa dilakukan di pasar modern, MUI tidak menganjurkan ini . Karena kalau pemingsanan itu akhirnya hewan mati, maka haram untuk dikonsumsi,” ungkapnya.

Ditambahkan Sekretaris LPPOM MUI Kota Medan M Basri, penyuluhan di pasar tradisional merupakan lanjutan kerja MUI Kota Medan dengan PD Pasar Kota Medan terkait penyembelihan hewan sesuai syariat Islam dan makanan halal/higienis.

“Kami berharap agar pengusaha unggas yang sudah bagus penyembelihan nya dipertahankan dan yang belum dapat memperbaiki dan melakukannya sesuai ajaran Islam,” katanya. Ia juga mengajak pedagang unggas untuk dapat mendaftarkan usahanya mendapatkan sertifikat halal ke MUI Kota Medan sebagai jaminan produk dan persaiangan usaha.
“Pangan yang higienis dan halal itu suatu kebutuhan manusia tidak hanya bagi umat beragama Islam. Apalagi kalau produk yang dijual itu memang dibutuhkan umat Islam, sehingga harus diberikan dengan jaminan produk halal dan sehat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *