HUKUM BONCENGAN DENGAN DRIVER OJEK ONLINE YANG BUKAN MAHRAM DALAM TINJAUAN FIKIH PERKOTAAN

Dr. H. Muhammad Amar Adly, Lc, MA

Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Medan

Pendahuluan

الإرداف مصدر أردف وأردفه أركبه خلفه ولا يخرج استعمال الفقهاء عن هذا المعنى “الحكم الإجمالي”

Kata Irdaaf (berboncengan)adalah mashdar dari lafadz Ardafa, Ardafahu yang bermakna menaikkan/membonceng seseorang di belakangnya dan istilah Ulama Ahli Fiqh tidak keluar dari makna ini ”Hukum Secara Global” [ Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah vol. III hal. 91 ].

Ketentuan Umum

  1. Khalwat ditempat tertutup hukumnya haram

Khatwat atau khulwah artinya berdua-duaan antara wanita dan lelaki yang bukan mahram. Khalwat haram hukumnya karena Nabi saw bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Imam An Nawawi berkata: “Adapun jika lelaki ajnabi (asing) dan wanita ajnabiyah (asing) berduaan tanpa ada orang yang ketiga bersama mereka, hukumnya haram menurut ijma ulama. (Syarh Shahih Muslim, 9/109).

  • Khalwat ditempat terbuka hukumnya tidak haram

Khalwat yang dilarang dalam hadis di atas adalah jika lelaki dan wanita tersebut berduaan dalam suatu tempat yang tertutup atau terhalangi dari pandangan orang-orang. Disebutkan dalam Mu’jam Al Wasith:

الخلوة مكان الانفراد بالنفس أو بغيرها والخلوة الصحيحة في الفقه: إغلاق الرجل الباب على زوجته وانفراده بها

Al Khalwat  adalah tempat seseorang bersendirian, baik satu orang atau bersama yang lainnya. Sedangkan khalwat  dalam istilah fikih artinya: seorang suami menutup pintu untuk berduaan dengan istrinya”

Ibnu Muflih dalam kitab Al Furu’ mengatakan:

الخلوة هي التي تكون في البيوت أما الخلوة في الطرقات فلا تعد من ذلك

Khulwah itu biasanya di dalam bangunan. Adapun berduaan di jalanan maka tidak termasuk khulwah”.

Maka wanita berboncengan motor dengan lelaki di jalanan tidak termasuk khulwah.

  • Ikhtilath atau percampuran antara wanita dan pria hukum asalnya haram kecuali jika tidak terjadi khalwat di tempat tertutup.
  • Menjaga pandangan (ghadd al bashar) kepada lawan jenis adalah wajib berdasarkan firman-Allah swt berikut ini:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 30-31).

Dan Firman Allah swt:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53).

  • Menyentuh wanita yang bukan mahram adalah haram

Rasulullah saw bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahramnya)” (HR. Ar Ruyani dalam Musnad-nya, 2/227,dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1/447).

  • Mata, lisan dan hati bisa berzina (maknawi)

Perlu diketahui bahwa ada zina secara maknawi, yang pelakunya memang tidak dijatuhkan hukuman rajam atau cambuk namun tetap diancam dosa karena merupakan pengantar menuju zina hakiki. Rasulullah saw bersabda:

إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا، أدرك ذلك لا محالةَ، فزنا العينِ النظرُ، وزنا اللسانِ النطقُ، والنفسُ تتمنى وتشتهي، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه

Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya” (HR. Al Bukhari 6243).

Ibnu Bathal menjelaskan: “zina mata, yaitu melihat yang tidak berhak dilihat lebih dari pandangan pertama dalam rangka bernikmat-nikmat dan dengan syahwat, demikian juga zina lisan adalah berlezat-lezat dalam perkataan yang tidak halal untuk diucapkan, zina nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan. Semua ini disebut zina karena merupakan hal-hal yang mengantarkan pada zina dengan kemaluan” (Syarh Shahih Al Bukhari, 9/23).

Hukum Berboncengan Dengan Yang Bukan Mahram

Jika telah dipahami beberapa ketentuan umum di atas, maka bisa kita simpulkan bahwa hukum berboncengan dengan yang bukan mahram tidak diperbolehkan sebagaimana pernyataan sekumpulan ulama di bawah ini:

يجوز إرداف الرجل للرجل والمرأة للمرأة إذا لم يؤد إلى فساد أو إثارة شهوة لإرداف الرسول للفضل بن العباس ويجوز إرداف الرجل لامرأته والمرأة لزوجها لإرداف الرسول لزوجته صفية رضي الله عنها وإرداف الرجل للمرأة ذات الرحم المحرم جائز مع أمن الشهوة وأما إرداف المرأة للرجل الأجنبي والرجل للمرأة الأجنبية فهو ممنوع سدا للذرائع واتقاء للشهوة المحرمة ) الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء الثالث صحـ 91(

Diperbolehkan seorang pria membonceng pria lain, wanita membonceng wanita lain bila memang tidak menimbulkan bahaya atau menimbulkan syahwat karena Rasulullah saw pernah membonceng sahabat fadhl Bin Abas, boleh juga suami membonceng istrinya, istri membonceng membonceng suaminya karena Rasulullah saw pernah membonceng istrinya Shofiyyah Ra. Seorang pria membonceng wanita mahramnya hukumnya boleh dengan syarat aman dari gejolak nafsu, sedang seorang wanita membonceng pria yang bukan mahramnya dan seorang pria membonceng wanita yang juga bukan mahramnya hukumnya di larang untuk menghindari hal-hal yang menjadi perantara dan timbulnya syahwat yang di haramkan. [ Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah vol. III hal. 91 ].

kecuali bila bisa terhindar dari fitnah (hal-hal yang diharamkan) seperti :

  1. Tidak terjadi ikhtilath (persinggungan badan)

Bila persinggungannya secara langsung, maka haram bila tidak maka makruh. Jadi,apabila ada anak di tengahnya hukumnya adalah makruh.

وَمِنْهُ الْوُقُوْفُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ أَوِ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْاِجْتِمَاعُ لَيَالِيَ الْخُتُوْمِ آخِرَ رَمَضَانَ وَنَصْبُ الْمَنَابِرِ وَالْخُطَبُ عَلَيْهَا فَيُكْرَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ اخْتِلَاطُ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ بِأَنْ تَتَضَامَّ أَجْسَامُهُمْ فَإِنَّهُ حَرَامٌ وَفِسْقٌ

“Di antaranya adalah saat wuquf di malam arafah atau saat di masy’ar al-haram (muzdalifah), berkumpul di akhir malam pada bulan Ramadhan, mendengarkan khutbah bersama-sama maka dimakruhkan selagi tidak terjadi percampuran antara pria dan wanita dengan gambaran jasad-jasad mereka antara satu dan lainnya saling bersinggungan maka termasuk hal yang diharamkan dan perbuatan fasiq”.      [ I’aanah at-Thoolibiin I/313 ].

اخْتِلَاطَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ إذَا لَمْ يَكُنْ خَلْوَةً لَيْسَ بِحَرَامٍ

Percampuran antara wanita dan pria asalkan tidak terjadi khalwat tidak diharamkan. [ Al-majmuu’ IV/350 ].

  • Tidak terjadi khalwat  (berkumpulnya laki-laki dan wanita di tempat sepi yang menurut kebiasaan umum sulit terhindar dari perbuatan yang diharamkan)

وَضَابِطُ الْخَلْوَةِ اجْتِمَاعٌ لَا تُؤْمَنُ مَعَهُ الرِّيبَةُ عَادَةً بِخِلَافِ مَا لَوْ قُطِعَ بِانْتِفَائِهَا عَادَةً فَلَا يُعَدُّ خَلْوَةً

Batasan yang dinamai khalwat adalah pertemuan yang tidakaman terjadinya kecurigaan (ke arah zina) secara kebiasaan, berbeda saat dipastikan tidak akan terjadi hal yang demikian secara kebiasaannya maka tidak dinamai khalwat. [Hasyiyah al-jamal IV/124].

  • Tidak melihat aurat selain dalam kondisi dan batas-batas yang diperbolehkan syara’

ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن

  • Tidak terjadi persentuhan kulit
  • Tidak  menimbulkan fitnah
  • Tidak menimbulkan zina maknawi

Masalah ketentuan syarat-syarat yang lain yang telah di sebutkan diatas bisa di lihat di : Syarh Muslim vol. XIV hal. 164-166, I’ânah at-Thâlibîn vol. I hal. 272, Al-Mausû’ah, alFiqhiyyah vol. II hal. 290-291

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *