HUKUM PENGGUNAAN KOSMETIK WATERPROOF DALAM ISLAM

Dr. H. Muhammad Amar Adly, Lc, MA

Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Medan

RUMUSAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud dengan kosmetik waterproof?
  2. Apa hukum menggunakan kosmetik bagi wanita muslimah?
  3. Apakah dampak negatif akibat penggunaan kosmetik?
  4. Apa hukum menggunakan kosmetik waterproof?
  5. Bagaimana status wudhu orang yang sedang menggunakan kosmetik waterprof?

1. Pengertian kosmetik waterproof

Kosmetik waterproof adalah kosmetik yang bisa bertahan meski digunakan untuk aktivitas di air dan sama sekali tidak akan luntur. Kosmetik waterproof  cocok untuk menghadiri acara penting atau berlibur ke pantai maupun waterpark. Berdasarkan ketahanannya, kosmetik waterproof bisa lebih tahan lama dibandingkan dengan kosmetik yang water resistant. Kandungan kosmetik waterproof adalah dimethiconeyang merupakan salah satu bentuk dari silikon. Dimethicone dalam produk kecantikan membantu membuat wajah menjadi lebih halus karena dapat mengisi pori-pori sehingga tampilan makeup akan lebih flawless. 2. Hukum menggunakan kosmetik / make up bagi wanita muslimah.

2. Hukum menggunakan kosmetik / make up bagi wanita muslimah.

Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat:

Pendapat pertama mengatakan bahwa kosmetik berada dalam hukum asal hiasan wanita muslimah yaitu boleh. Hal ini berdasarkan firman Allah swt:

قل من حرم زِينَة الله الَّتِي أخرج لِعِبَادِهِ والطيبات من الرزق

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?”. (QS Al-A’raf : 32)

Syaikh Al-‘Utsaimin berkata: “Adapun kosmetik yang dipakai wanita untuk berias maka kami menilainya tidak mengapa karena hukum asal (hiasan wanita) adalah boleh. Kecuali jika terbukti bahwa penggunaan kosmetik tersebut membahayakan wajah di masa mendatang, maka dalam kondisi ini pemakaiannya dilarang dalam rangka menolak kerusakan”. [Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 12/290]

Pendapat kedua menyatakan secara asalnya tidak boleh bagi wanita muslimah memakai make up. Argumentasi pendapat ini adalah:

Karena kosmetik berasal dari amalan wanita kafir ataupun fasik. Alasan ini jelas terlihat dari perkataan Syaikh Al-Albany: “Tidak boleh bagi orang yang tidak berhijab apalagi yang mengenakan hijab, menggunakan kosmetik orang kafir, kosmetik orang fasik. Nama ini (yakni kosmetik) hanyalah kata asing untuk mengungkapkan hiasan orang fasik, wanita-wanita fasik, wanita-wanita eropa. [Kaset Silsilah Huda wan Nuur 697]

Alasan ini mungkin bisa dijawab, bahwa tasyabbuh terjadi apabila sebuah amalan merupakan kekhususan mereka, yaitu ciri khas yang mereka dikenal dengannya, artinya tidak dikenal yang memakai pewarna di wajah kecuali wanita kafir atau fasik. Apabila sebuah amalan muncul atau dimulai dari orang kafir, tidak mesti dikatakan bahwa amalan tersebut merupakan kekhususan mereka. Berapa banyak amalan-amalan dan alat-alat yang muncul dari kafir dan mereka populerkan di media-media, namun para ulama tidak menghukuminya sebagai bentuk tasyabbuh.

Syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan: “Timbangan tasyabbuh adalah: seorang melakukan penyerupaan dalam kekhususan orang yang diserupai. Tasyabbuh dengan orang kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang merupakan kehususan mereka. Adapun perkara yang telah berkembang di kalangan muslimin sehingga orang kafir tidak bisa dibedakan dengannya, maka tidak terjadi tasyabbuh. Dan tasyabbuh tidaklah haram kecuali ada unsur keharaman di dalamnya. Apa yang kami sampaikan ini adalah konsekwensi yang ditunjukkan oleh kata (tasyabbuh) ini”. [Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Al-‘Utsaimin 12/290]

Terlebih lagi meletakkan pewarna di tubuh wanita tidak ada larangan secara khusus, bahkan sebaliknya terdapat dalil tentang pemakaian celak di mata, ataupun inai di tangan dan kaki dengan tidak berlebih-lebihan, dan tidak dipertontonkan kepada lelaki yang bukan mahram.

Terkait dengan alasan bahwa hiasan ini (kosmetik/make up) tidak diturunkan Allah penjelasan tentangnya, mengandung konsekuensi bahwa setiap hiasan yang dipakai wanita mesti ada dalilnya. Yakni hukumnya seperti ibadah yang tidak boleh dilakukan kecuali ada dalil. Hal tersebut jelas menyelisihi hukum asal akan bolehnya hiasan bagi wanita baik yang dahulu dikenal maupun tidak selama tidak ada faktor lain yang menyeretnya kepada keharaman, sesuai keumuman ayat.

Karena bahaya dan dampak negatif yang ditimbulkan dari pemakaian kosmeti, seperti jerawat, alergi, iritasi, flek hitam, kelainan pigmen, penuaan dini sampai kulit wajah memerah yang kelihatan terbakar.

Jawab: tidak semua kosmetik menimbulkan efek samping dan dampak negatif. Jika benar suatu produk kosmetik itu membahayakan maka haram hukumnya. Karena ada kaidah penerapan hukum Islam yaitu : “Al-Hukmu Yaduuru Ma’a ‘Illatihi”, yakni hukum-hukum itu berjalan sesuai dengan keberadaan ‘illat (sebab hukum) nya, apabila ‘illatnya tidak ada maka hukumnya tidak ada. Ketika ditetapkan yang menjadi ‘illat larangan adalah bahaya, maka konsekuensinya apabila bahaya itu ada maka perkara ini terlarang, tapi apabila bahaya itu tidak ada maka perkara ini tidak terlarang.

Di sisi lain syari’at juga membolehkan menempuh bahaya yang ringan demi mendapatkan maslahat yang rajih (dominan) sebagaimana bolehnya imunisasi, khitan, amputasi dll

Syaikh Al-‘Utsaimin berkata: “Boleh bagi wanita berhias untuk suaminya dengan berbagai jenis riasan kecantikan yang tidak diharamkan, baik itu pada mata, kedua pipi, bibir atau tempat lain yang menjadi lokasi keindahan dan hiasan, akan tetapi telah sampai kepada kami bahwasanya kosmetik dapat membahayakan kulit wajah perempuan, maka dengan kondisi ini harus mengambil pendapat ahli medis dalam masalah itu. Apabila mereka mengatakan: “Ya, kosmetik membahayakan kulitnya walau di masa depan”, maka dalam kondisi ini jangan dipakai”. [Fatawa Nuur ‘Alad Darb kaset 147 side B]

Dalam kesempatan lain beliau berkata: “Aku telah mendengar bahwasanya kosmetik dan sejenisnya dari bahan kimia, memberikan efek pada kulit walaupun setelah waktu lama dan tidak terlihat dalam waktu dekat. Karena itu wajib menjaga diri dari yang semisal dengan alat rias kimia ini, dengan berkonsultasi kepada orang yang ahli dengan masalah ini yaitu para dokter”. [Fatawa Nuur ‘Alad Darb kaset 366 side A]

Oleh sebab itu maka dapat disimpulkan jika ditemukan kosmetik atau pewarna wajah yang “aman”, maka hal itu dibolehkan akan tetapi tentulah mesti merujuk kepada orang yang ahli dalam masalah tersebut, dan tentunya bukan sekedar kata “dokter”, dimaklumi ilmu kesehatan memiliki bidang spesialisasi yang banyak dan para dokter pun tak semuanya terjamin kualitasnya. Satu lagi, perlu diperhatikan kondisi kulit seseorang, karena reaksi yang muncul akibat interaksi kulit dengan bahan kimia berbeda tergandung kondisi kulit.

Karena menggunakan kosmetik membuang-buang harta dan prilaku mubazzir. Alasan ini tidak bisa dijadikan illat pengharaman secara umum, karena membelanjakan harta untuk hiasan yang wajar bukanlah pemborosan, dan kosmetik kebanyakan bukanlah tergolong sesuatu yang mewah dan mahal. Alasan ini bisa berlaku pada jenis yang di luar batas kewajaran.

Karena pemakaian make up termasuk perbuatan mengubah ciptaan Allah dan tadlis. Alasan ini lemah karena yang terjadi hanyalah pengubahan warna yang sifatnya temporer dan kentara, sama sekali tidak mengubah bentuk ciptaan baik bibir pipi dan lainnya, perkara ini sebagaimana pemakaian celak pada mata atau pemakaian inai pada tangan.

Akhirnya, disarankan kepada wanita muslimah untuk menghindari pemakaian alat rias kimiawi dan beralihlah kepada bahan-bahan alami yang tidak menimbulkan kekhawatiran, seperti minyak zaitun dll.

3. Apakah dampak negatif akibat penggunaan kosmetik?

Ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari pemakaian kosmetik seperti :

  • Munculnya jerawat,
  • Alergi,
  • Iritasi,
  • Flek hitam,
  • Kelainan pigmen,
  • Penuaan dini
  • Kulit wajah memerah seperti terbakar.
  • Mascara atau eye liner bisa menyebabkan bulu mata cepat berjatuhan, atau tak sengaja tercabut saat membersihkannya terlalu keras.
  • Jika menggosok/ mengucek mata bisa menyebabkan pembuluh darah di sekitar mata rusak.
  • Penggunaan setiap hari kosmetik bahan ini akan menyebabkan partikel dari liner bisa mengapungdi airmata dan menyumbat saluran yang bisa menyebabkan infeksi mata, bintitan, dan memicu reaksi alergi pada mata, hal ini dikarenakan pengawet dan bahan kimia.

4. Hukum menggunakan kosmetik waterproof? Apakah menghalangi masuknya air ke anggota tubuh yang harus dibasuh ketika berwudhu?

Secara perinsip kosmetik waterproof yang menggunakan bahan baku dari babi dan bahan yang haram lainnya maka haram  digunakan, sebaliknya jika menggunakan bahan baku yang halal maka halal digunakan, hanya saja apakah penggunaannya menghalangi masuknya air wudhu ke kulit atau tidak.

Sebagaimana diketahui bahwa membasahi badan yang tergolong anggota wudhu saat berwudhu, adalah wajib. Bahkan Rasulullah ﷺ sampai pernah bersabda:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

“Celaka atau lembah wail (di neraka jahanam) bagi para pemilik tumit yang tidak terkena air wudhu. Sempurnakan wudhu kalian!” (HR. Muslim)

Saat Nabi saw melihat seorang salat dengan kondisi ada bagian anggota wudhu yang tidak terbasahi air, Nabi saw perintahkan orang tersebut mengulang wudhu dan salatnya. Khalid bin Mi’dan menceritakan kisah ini yang beliau dapat dari sebagian istri-istri Nabi ﷺ,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رجلا يصلي وفي ظهر قدمه لمعه قدر الدرهم لم يصبها الماء فأمره رسول الله صلى الله عليه وسلم  أن يعيد الوضوء .

”Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang shalat sedangkan di punggung kakinya ada bagian mengkilap karena tidak terbasuh air wudhu, seukuran sekeping dirham. Lalu Nabi ﷺ menyuruhnya mengulang kembali wudhunya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Sedikit saja bagian wudhu tidak terkena air wudhu, itu dapat membatalkan seluruh basuhan wudhu, sehingga harus mengulang kembali wudhu secara sempurna. Ini menunjukkan pentingnya memastikan semua anggota wudhu terbasahi air wudhu.

Bagaimana dengan kosmetik Waterproof? Apakah menghalangi masuknya air ke kulit?

Secara umum kosmetik wanita ada dua jenis :

Pertama, memiliki ketebalan dan membentuk lapisan. Kosmetik jenis ini, harus dihilangkan sebelum berwudhu. Karena menghalangi sampainya air ke anggota wudhu. Jika tidak dihilangkan, maka wudhu tidak sah, dan terkena ancaman hadis di atas. Contohnya seperti lipstik, bedak wajah yang tebal dll.

Kedua, tidak memiliki ketebalan dan tidak membentuk lapisan. Kosmetik jenis ini tidak harus dihilangkan. Karena tidak mengandung lapisan atau ketebalan, yang menghalangi basahan air wudhu. Contohnya kosmetik yang hanya berupa warna, seperti celak, pewarna kuku dll.

Syekh Abdul Aziz Ibnu Baz-rahimahullah– menerangkan,

إذا كان المكياج له جسم، يمنع الماء، يزال، وإن كان ليس له جسم بل هو مجرد صبغ، لا يكون له جرم، فلا يلزم إزالته، أما إذا كان له جسم يحصل له منع، يعني يمنع الماء، فهذا يجب أن يزال من الوجه، وهكذا من الذراع، إذا كان فيه شيء كالعجين يزال، أما إذا كان الشيء مجرد صبغ ليس له  جسم ولا جرم، هذا ما تجب إزالته

Jika kosmetik memiliki fisik (membentuk lapisan), menghalangi sampainya air ke anggota wudhu, maka harus dihilangkan. Jika tidak memiliki fisik, jadi hanya sebatas warna, tidak memiliki ketebalan, maka tidak harus dihilangkan. Namun jika kosmetik memiliki fisik, sehingga dapat menghalangi basahan air wudhu, maka make up seperti ini wajib dihilangkan. Seperti kosmetik wajah atau lengan, jika mengandung zat lilin (membentuk lapisan), maka harus dihilangkan. Adapun kalau hanya sebatas warna tidak memiliki fisik dan ketebalan, tidak harus dihilangka.

Dari kedua jenis kosmetik di atas,  kosmetik waterproof tergolong yang mana? Dari namanya kita bisa menangkap bahwa salah satu jenis kosmetik yang sekarang banyak diminati ini, tergolong jenis pertama. Waterproof artinya anti air. Ini jelas menunjukkan memiliki ketebalan dan lapisan. Sehingga harus dihilangkan saat hendak berwudhu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *