MUI Medan Beri Pelatihan Penguatan Ekonomi Keluarga

Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan memberi pelatihan penguatan ekonomi keluarga melalui rumah tangga kreatif di Panti Asuhan Anisa Aisiah Jalan Santun Medan, Sabtu (22/6).

Hadir puluhan peserta dari beberapa pengajian dan Majlis Taklim di Kota Medan dengan narasumber Sekretaris Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Kota Medan, Dra Hj Asmawita AM, Lc, MA dan Fasilitator dari Rumah Zakat Cabang Medan, Agussalim Siregar.

Dipaparkan Asmawita dalam materinya Pemberdayaan Majlis Taklim Perempuan Sebagai Kekuatan Ekonomi Melalui Jaringan Usaha Hulu-Hilir Produk Usaha Ramah Tangga, apabila masyarakat Indonesia 80 persen umat Islam dan 50 persennya penduduk Indonesia adalah perempuan, maka kebanyakan yang miskin adalah umat Islam dan menderita itu perempuan.

“Hal ini bisa kita tangani yakni jika banyak Majlis Taklim dengan anggota yang banyak, maka dapat dibina menjadi suatu kekuatan pengubah kondisi kemiskinan terutama bagi kaum perempuan,” ujarnya.

Untuk mengatasi kemiskinan ini, lanjutnya dapat dimulai dengan penguatan ekonomi melalui usaha jaringan baik perseorangan, kelompok dan cooperat. Karena jaringan merupakan sebuah kekuatan dengan penerapan model jaringan usaha hulu-hilir produk usaha rumah tangga berbasis jaringan Majlis Taklim di Kota Medan.
“Ini cara pemberdayaan ekonomi umat melalui Majlis Taklim Perempuan. Membina kewirausahaan kaum perempuan terutama dari kalangan yang kurang berpendidikan dari dari kalangan ekonomi lemah dengan mengumpulkan mereka dalam suatu jaringan usaha yang berbasis jaringan kelompok,” katanya.

Majelis Taklim Perempuan, tambahnya, dapat menjadi penggerak ekonomi umat. Karena sejak dulu perempuan Indonesia merupakan bagian utama dari penopang ekonomi keluarga.
“Jadi muncul beberapa pemikiran kreatif, yaitu memadukan pekerjaan rumah tangga dengan dunia usaha. Perempuan mendapatkan imbalan penghasilan dari apa yang biasa dikerjakannya oleh kaum perempuan di dalam rumah tangga,” katanya.

Sementara Agussalam Siregar mengatakan, saat ini kewirausahaan berkembang di era digital. Sebab hampir separuh pekerja di dunia, sekitar 2 miliar, akan kehilangan pekerjaan di 2030 disebabkan massif-nya kemajuan teknologi.

Sebelumnya Ketua Panitia Dra Hj Nurliati Ahmad, MA dalam kata sambutan menyatakan, situasi yang berkembang dilihat di lapangan tanpa bermaksud mengecilkan suami-suami, kalau hanya menghandalkan pendapatan suami sebagai kepala keluarga maka pendapatan ekonomi akan tetap mencukupi.

“Membantu suami itu tugas mulia. Jadi boleh saja perempuan atau istri itu kerja asalkan izin suami. Jadi perempuan harus bisa bekerja, tidak pun di luar rumah bisa dikerjakan di rumah dengan berbagai jenis kreatif dipasarkan melalui ditigal,” ucapnya.

Perekonomian umat itu harus kuat. Orang Islam harus membuka lapangan pekerjaan dan berbasis sosial yang jug mempunyai manfaat untuk lingkungan.
“Bisnis itu berbicara soal proses. Awalnya Buat grand desain. Tujuan orang Muslim bangun ekonomi meraih keberkahan dari Allah SWT. Menjadi seorang wirausaha tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Jika kerja keras dan pengalaman itu dapat diperoleh langsung, maka ilmu adalah sesuatu yang perlu ditimba dari yang lebih berpengalaman. Namun tak banyak orang yang mau berbagi wirausaha, bahkan membuka peluang usaha bagi orang lain,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *