Aktualisasi Islam Wasathiyah Dimulai Dari Masjid

Wujud aktualisasi prinsip Islam Wasathiyah (berada ditengah) sebagai ajaran Islam rahmatan lil alamin, dapat dimulai dari masjid-masjid yang merupakan pusat kegiatan umat. Apalagi salah satu problematika yang dihadapi bangsa ini adalah dekadensi moral, dan Masjid diyakini mampu memperbaiki hal tersebut.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof Mohd Hatta mengatakan, keberadaan Masjid sangat penting tidak hanya sebagai tempat shalat saja. Sejak zaman Rasulullah Saw, Masjid pusat segala kegiatan dari ibadah, pendidikan, pelatihan, silaturahim, nedia informasi bahkan pernah komando perang.
“Sedangkan sekarang ini aktivitas Masjid pada umumnya masih terbatas pada shalat lima waktu dan sedikit sekali menyentuh kegiatan sosial kemasyarakat. Padahal dari Masjid lah harus diarahkan pembangunan ukhuwah sebagai kekuatan umat Islam,” ujarnya diacara Penyuluhan aktualisasi prinsip Islam Wasathiyah dalam menjaga kesatuan dan keutuhan umat oleh Komisi Ukhuwah dan Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Kota Medan, Ahad (4/8) di Masjid Silaturrahim Jalan Antariksa Medan.

Hadir juga sebagai narasumber lainnya Ketua Komisi Ukhuwah dan Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Kota Medan, Burhanuddin Damanik dan Sekretaris Komisi Ukhuwah Ahmad Suhaimi.

Dijelaskan Prof Mohd Hatta, dalam meningkatkan fungsi Masjid diperlukan sistem manajemen dengan konsep Idarah yakni pengelolaan kegiatan dalam mengenbangkan dan mengatur kerjasama yang melibatkan banyak orang. Kemudian Imarah kegiatan memakmurkan Masjid dengan multi kegiatan serta Riayah yaitu pemeliharaan bangunan, peralatan, sarana dan prasarana serta lingkungan kebersihan Masjid.

Masjid merupakan simbol peradaban Islam dan simbol ukhuwah Islamiyah. Maka kata Prof Mohd Hatta, penguatannya harus dimulai dari Masjid dan berlangsung di Masjid. “Ukhuwah Islamiyah akan rapuh jika pemahaman tentang Masjid dipahami secara sempit,” katanya.

Sementara Burhanuddin Damanik, menyatakan, salah satu kenikmatan terbesar dan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam adalah menjadikan umat pertengahan (washatan). Dimana Islam Wasathiyah penuh dengan toleransi, tidak terjebak ekstrimitas, modernisasi Islam dan cenderung menyelesaikan masalah dengan musyawarah.

“Islam wasathiyah merupakan sebuah konsep dan karakter Islam yang sudah dikenal sejak dulu. Karena itu, menurut dia, membicarakan masalah Islam wasathiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan,” katanya.

Ahmad Suhaimi juga menjelaskan, Islam Rahmatan Lil Alamin adalah keindahan bukan kekerasan. Keragaman adalah landasan interaksi dan tanda kekuasaan Allah SWT.
“Rahmat Islam hadir bukan hanya berlaku untuk orang Islam saja, tetapi untuk semua manusia tanpa memandang suku, bangsa, agama dan ras. Meski tantangan dalam mewujudkan Wasthan itu akan selalu ada misalnya fanatik, sikap kasar dan keras, buruk sangka terhadap manusia dan terjerumus dalam pengkafiran. Untuk itu diperlukan salim aqidah, shahinul ibadah dan matinul khulug,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *