MUI Medan Lakukan Penyuluhan Problematika Hukum Perkawinan Islam

Umat Islam khususnya perempuan sering sekali tidak memahami hak-hak dan kewajibannya dalam hukum perkawinan dalam Islam. Sehingga sering terombang ambing dalam persoalan hukumnya seperti warisan, pembagian harta bersama setelah bercerai, pernikahan wanita hamil dan beda agama.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan, Prof Mohd Hatta pada acara Penyuluhan Problematika Hukum Perkawinan Dalam Islam oleh Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Kota Medan, Sabtu (3/8) di Masjid Al Amin Medan Perjuangan.

Hadir juga sebagai narasumber Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Kota Medan, Dr Ali Murtadho dan Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Medan Dr M Amar Adly, Lc, MA.

Menurut Prof Mohd Hatta, hukum perkawinan merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang umurnya setua manusia, tetapi hukum yang berkenaan dengan perkawinan itu terus berkembang dan selalu jadi perbincangan terutama soal hak dan kewajiban dalam status perkawinan.
“Banyak problem-problem yang berkembang ditengah masyarakat terkait perkawinan. Untuk itu kita terus lakukan penyuluhan ke Masjid-masjid tentang hukum perkawinan dalam Islam. Kita juga menekankan agar pengurus Masjid dapat berperan aktif membangun manusia yang beriman dan menjawab semua masalah keumatan,” kata Prof Mohd Hatta.

Sementara Dr Ali Murtadho, memaparkan problematika yang sering muncul dalam pernikahan yakni pernikahan beda agama, pernikahan wanita hamil dan masalah anak angkat dalam suatu perkawinan.
“Pernikahan beda agama tidak pernah habis menjadi perdebatan di Indonesia. Meskipun pro kontra, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari masih ada pemeluk agama berbeda memutuskan untuk menikah dan mencatat perkawinan di luar negeri,” katanya.

Sedangkan untuk hukum menikahi wanita hamil, Murtadho menjelaskan, berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (HKI), hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya. Ketentuan ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat An Nur ayat 3 bahwa laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.

Narasumber lainnya, Dr Amar Adly, mengatakan masalah pernikahan tidak hanya menyinggung tabiat maupun hajat hidup manusia yang asasi, tapi juga menyangkut kesatuan yang luhur bernama rumah tangga. Pernikahan memiliki tujuan sebagaimana tertera didalam Al Quran Surat Ar Ruum ayat 30.
“Namun terkadang tujuan yang diharapkan tidak bisa tercapai karena adanya pernikahan yang diluar kebiasaan seperti nikah bera agama, menikahi wanita hamil dan tidak adanya keturunan sehingga harus mengadopsi anak,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *