IDUL ADHA; UPGRADE PERAN KEHIDUPAN MANUSIA MODERN

Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum MUI Kota Medan

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3

 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ..

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع دين محمد. وسلم تسليما كثيرا

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

. فياايها المسلمون الكرام. اوصيكم ونفسى بتقوى الله. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd

Saudara-saudaraku, Kaum Muslimin dan Muslimat yang Dimuliakan Allah. Pertama-tama marilah kita  banyak-banyak bersyukur  kehadirat  Allah SWT. Atas rahmat dan nikmat-Nya pada kita semua.  Baik itu nikmat iman, nikmat  Islam dan nikmat kesehatan, sehingga pada  pagi yang berbahagia ini,  kita semua  dapat berkumpul di tempat mulia ini, seraya mengumandangkan kalimat  takbir, tahmid dan tahlil, serta  dapat menunaikan ibadah Sholat Sunnah Idul Adha dua rakaat.

Selanjutnya, solawat dan salam, marilah kita sampaikan keharibaan Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi akhir zaman dan seluruh keluarga, sahabat-sahabatnya, para  tabiin-tabiin  dan keluarga umat Islam  sejak zaman dahulu  hingga  yaumil akhir nanti.
Saudara-saudaraku Kaum Muslimin & Muslimat  yang Dimuliakan Allah.

Dengan hati yang ikhlas,  penuh tawadhuk, mari kita gunakan kesempatan ini  untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita. Sekaligus  merenung sejenak betapa banyak makna dan hikmah Idul Adha, atau Idul Qurban yang dapat kita jadikan pelajaran, dalam kehidupan keluarga kita sehari-hari.

Kita semua, termasuk diri pribadi khotib sendiri, hendaknya  terus berusaha meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Banyak belajar dan menggali berbagai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu akhirat. Ada pepatah mengatakan, semakin dekat kita kepada sumber mata air, semakin murni air yang kita minum.

Kemarin,  tanggal 9 Zulhijjah, jutaan jemaah haji dari belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan ada pula   saudara-saudara kita, tetangga kita, khususnya dari lingkungan RW (Rukun Warga) ini, hadir di sana,  memenuhi panggilan-Mu Ya Robb. Mereka  hadir di Padang Arafah untuk menunaikan ibadah wukuf, sebagai  puncak ibadah haji.

Mereka mengenakan pakaian ihrom. Nampak memutih memadati penjuru Tanah Suci. Mereka berkumpul di satu titik yakni Padang Arafah.  Tanpa membedakan  pangkat, jabatan, suku, bangsa, bahasa dan warna kulit. Jutaan jemaah haji  sujud dan bersimpuh di Arafah, sujud di depan Baitullah. Mereka  beristighfar, berdoa dan mohon ampun  kepada-Mu Ya Allah.

Kalimat Talbiyah membahana, sahut-sahutan. Mereka ucapkan dengan penuh ikhlas dan curahan air mata. Ingat kedua orangtuanya yang telah tiada. Ingat keluarga yang ditinggal di tanah air. Ingat betapa banyaknya tumpukan-tumpukan dosa dan ingat bayangan-bayangan yaumil mahsyar.

Arafah menjadi lautan manusia. Padang  Arafah banjir air mata oleh  jutaan  umat manusia.  Tujuan mereka pun satu, yaitu mengharap Ridho Allah SWT dan menjadi haji mabrur.

Labbaikallahumma Labbaik. Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innalhamda. Wan Ni’mata. Laka Wal Mulk. Laa Syarikalak.

Artinya:  Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milik-Mu. Begitu juga kerajaan. tiada sekutu bagiMu

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd

Nabi Ibrahim adalah Nabi Ulul Azmi. Dalam usia lanjut belum mendapatkan keturunan. Maka suatu malam, beliau berdoa kepada Allah, agar dikaruniai anak yang sholeh:

“Robbi Hablii minassolihin.” (Artinya: Ya Allah, keruniakanlah kepadaku anak (keturunan) yang sholeh.” (QS Ash Shaffat 100)

Kemudian Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim AS, maka istri beliau bernama Siti Hajar, wanita Keturunan Ethopia. Dia adalah budak sahaja oleh Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim AS. Wanita terhormat  itu melahirkan seorang putra bernama Nabi Ismail AS.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS inilah yang mencatat, serta mengukir tinta emas sejarah dan sendi-sendi Rukun Islam.

Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW: Dibina Islam itu atas lima sendi, yaitu “mengucapkan kalimah syahadat bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah Utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, naik haji dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Banyak hikmah  yang kita dapat dari perjalanan kehidupan Nabi Ibahim AS beserta putranya, Nabi Ismail AS. Antara lain,  adanya perintah menyembelih  hewan kurban kepada orang-orang mukmin yang ekonomi mampu. Anjuran berqurban sebagai wujud kepatuhan dan keikhlasan,  sebagai mana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Sekaligus menyatakan bahwa ibadah qurban ini sarat dengan nilai-nilai kesetiakawanan-sosial.

Ada yang menarik untuk kita perhatikan. Dan kita jadikan pelajaran berharga. Yaitu, terciptanya suatu komunikasi atau dialog, antara Nabi Ibrahim AS dengan putranya, Nabi Ismail AS, sesaat sebelum Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah.            

Firman Allah SWT dalam Surah Ash-Shaffat 102-107.

Artinya:  “Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai usianya dapat membantu Ibrahim, maka Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya saya bermimpi bahwa saya disuruh menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?” Si anak menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.” (102)

 “Tatkala keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan atas pelipisnya.” (103) “Dan kami memanggilnya, Wahai Ibrahim.” (104)

“Sesungguhnya engkau telah membuktikan ketaatanmu atas perintah dalam mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah, kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (105)

 “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (106)
 “Dan kami tebus anak itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar.” (107).  (QS Ash-Shaffat 102-107)

Allahu Akbar..Allahu…Allahu Akbar ..Allahu  Akbar Walillahi Hamd

Sesungguhnya, dialog itu menanamkan nilai-nilai edukasi, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai kepatuhan, ketaatan kepada Khaliq-Nya.  Selain itu, komunikasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim kepada anaknya, menggambarkan betapa harmonisnya, hubungan antara orangtua dengan anak, atau pun sebaliknya, antara anak dengan orangtua. Inilah potret keluarga Islami yang sebenarnya.

Ayahandanya, Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail, sama-sama memiliki kadar keimanan yang tinggi dan kuat. Tahan diuji dan tidak goyah dirayu oleh syetan. Demikian halnya dengan Siti Hajar yang berlari-lari kecil (sa`i) antara Shafa dan Marwah untuk mencari sumber air. Hidup dalam keterasingan di gurun tandus dan berbatuan. Inilah potret pengorbanan seorang ibu kepada anaknya.

Awalnya, Nabi Ibrahim  AS tidak sanggup berkata terus terang kepada anaknya. Banyak pertimbangan dan terjadi pergulatan bathin. Perintah menyembelih, itu pun disampaikan Nabi Ibrahim  AS, secara cepat,  agar tidak didengar oleh telinganya sendiri.

Nabi Ibrahim membisu, tertunduk dengan wajahnya pucat. Nabi Ibrahim seakan tidak sanggup menatap wajah anaknya, yang sudah berusia remaja itu.  Tapi sebaliknya, Nabi Ismail AS menyadari apa yang dialami oleh ayahanda tercinta. Nabi Ismail AS malah berusaha menenangkan hati ayahandanya.

Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.”

Mendengar jawaban seperti itu, Nabi Ibrahim tersontak dan kembali bersemangat. Ia tidak gentar mengambil keputusan  setelah  terlebih dahulu berserah diri kepada Allah SWT.  Ia bangkit mengambil sebilah pisau tajam. Tapi apa yang terjadi? Atas izin Allah SWT, pisau setajam silet itu,  tidak mempan di leher putranya, Ismail.

Allah menebus  anaknya (Ismail) dengan hewan qurban. Inilah awal mula anjuran ibadah berqurban dengan menyembelih seekor hewan qurban, berupa sapi, domba atau seekor kambing sesuai dengan ketentuan syari`at.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari Idul Adha atau Idul  Qurban ini, antara lain bahwa setiap  umat Islam, dituntut untuk mengedepankan dialog yang dibungkus nilai-nilai Ukhwah Islamiyah. Nabi Ibrahim AS telah membuktikan betapa pentingnya suatu dialog atau musyawarah sebelum mengambil suatu keputusan.

Jika kita tarik dalam konteks kekinian, kita dituntut untuk membentuk keluarga  yang memiliki aqidah dan kadar keimanan yang kuat dan tangguh. Tidak mau menggadaikan  aqidah atau imannya gara-gara mengejar duniawi.

Kalau hanya menyerahkan jiwa raga buat sekaliber Nabi  Ibrahim AS,  bukanlah  masalah besar. Tapi ujian itu datang melalui  pintu kesenangan, berupa penyerahan putra tercinta untuk disembelih dengan tangan sendiri.  Demikian juga ujian kesabaran dalam doa untuk mendapatkan seorang anak.

Allahu Akbar …Allahu Akbar…Allahu Akbar  Walillahil Hamd

Banyak cara Allah menguji ketaatan dan kesabaran seorang hamba. Ada melalui kesenangan. Ada yang melalui penderitaan dan kesengsaraan. Orang kaya dan pejabat negara akan diuji dengan kekayaan dan jabatannya. Orang miskin juga akan diuji atas penderitaannya. Semua makhluk ciptaan Allah akan mengalami ujian dan cobaan, sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing.

Nabi Ibrahim AS telah lulus pada ujian yang diberikan Allah SWT. Beliau mendapat nilai tertinggi dengan judicium luar biasa.  Kalau kita kaitkan dengan kehidupan kita, apakah kita bisa lulus dalam setiap ujian dan cobaan dari SWT. Padahal jenis dan materi ujiannya tidak sesulit,  apa yang diberikan kepada  Nabi Ibrahim AS?.  Allahu a`lam bisshowaf.

Melalui kesempatan terbatas ini, mari kita bentuk dan bina  keluarga kita dengan nilai-nilai ke-Islaman. Menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kita tanamkan  aqidah yang kuat dan tangguh. Memiliki sikap ikhlas, taat dan sabar. Tidak memaksakan kehendak di luar kemampuan. Jangan biarkan anak cucu kita, istri dan suami kita, tidak sholat, buta aksara  Al Qur`an. Akhlaq dan ibadah mereka jangan sampai lemah, perilaku kita harus Islami. Mari kita selamatkan diri kita dan keluarga kita dari ancaman api neraka. Itulah suatu pertanggungjawaban kita pada hari ini, esok dan yang akan datang.

Firman Allah SWT: Artinya:  “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..” (QS At Thahrim  6).

Didik dan ajari, seluruh anggota keluarga kita sholat lima waktu sehari semalam. Karena sholat itu adalah tiang agama. Pembeda antara orang Islam dengan orang bukan Islam adalah sholat lima waktu. Makmurkan masjid, hiasi  dan semarakkan dengan kegiatan-kegiatan ibadah, belajar dan sosial kemasyarakatan. jangan mempertentangkan masalah-masalah khilafiyah.  Kita harus bersatu mengedepankan persamaan, jangan memperbesar-besar perbedaan faham.

Yang terpenting lagi,  kita semua harus memperkokoh ukhwah Islamiyah, dalam menyikapi suatu perbedaan. Kita jangan hanya kuat dan kompak dalam gerakan-gerakan sholat, tapi lemah di tengah-tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara. Terus terang, solidaritas umat Islam sekarang ini kian rapuh. Ibarat buih di tengah lautan. Mudah hancur dihempas ombak ke tengah karang. Mari kita hidupkan ghirah ke-islaman kita dengan menjaga utuh persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar  Walillahi Hamd

Allah SWT telah  memberi kita nyawa.  Allah telah  memberi kita rezeki. Allah yang memberi kita kesehatan. Allah yang memberi kita kesenangan. Allah yang  memberi kita kekayaan dan segala-galanya. Dan Allah jualah yang memberi cobaan, ujian dan teguran kepada umatnya. Dan Allah jualah yang mencabut atau menambah nikmat-Nya kepada manusia.
Mari kita berusaha semaksimal mungkin menempatkan diri kita sebagai hamba Allah, yang pandai mensyukuri nikmat. Jangan sampai ada satu nikmat Allah pun kita dustakan.

Firman Allah SWT:Artinya: “Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan.” (QS Ar Rahman 13).

Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar  Walillahi Hamd

Kita ini adalah makhluk yang lemah. Setiap saat dan waktu, kita memerlukan pertolongan dan bantuan Allah. Setiap detik dan menit. Hembusan dan tarikan nafas, kedipan mata, detak jantung, tidak akan bisa berjalan normal, tanpa Rahmat dan Kemurahaan dari Yang Maha Kuasa.

Semua makhluk dapat karunia nikmat dari Alah, namun banyak manusia yang lupa kepada Tuhan-Nya. Dia malah berpikir, semua apa yang didapatnya adalah hasil  jerih payah dan kerja kerasnya semata, bukan karena izin dan Ridho  Allah.  Naudzubillahi mindzalik.

Allah Berfirman dalam Alquran; Artinya “…..…Sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku akan sangat pedih”. (QS. Ibrahim ayat 7)

Terakhir, mari kita satukan kembali kekuatan, kebersamaan, ukhwah yang kuat yang tidak hanya simbolik, tapi ukhwah yang mengayomi, melindungi, menolong, ta’awun (peduli), kita jaga bangsa ini yang didalmnya ada ulama, ada orang taat, ada orang bertaubat, ada masjid yang didalamnya orang melaksanakan segala kewajiban, kita bantu Negara ini untuk kembali menguatkan identitas keimanan, keadaban, kemartabatan sehingga, dengan bekerja bersama, berjuang bersama, merasa Indonesia rumah kita bersama, akan menguatkan kembali ghirah keislaman dimana mana.

Kita hentikan saling membenci, saling menggolong-golongkan, saling mengkotak kotakan, saling menghina, sebab semua itu hanya menghabiskan energy kita, Allah murka, allah sedikitkan rezki dan kemuliaan, sebab kita keluar dari prinsip (arrahimuuna yarhamu humurrahman..) saling sayang menyayangi.

Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Dimuliakan Allah

Akhirnya, melalui mimbar ini, saya mengajak kita semua berdoa untuk keselamatan diri kita sendiri, keselamatan keluarga kita, keselamatan bangsa dan negara kita.

•Allahumma Ya Allah, kami berkumpul di tempat ini untuk memenuhi panggilan-Mu, untuk mencari Ridho dan Ampunan-Mu. Karenanya ya  Allah, terimalah ibadah sholat kami,  terima ibadah puasa kami, serta seluruh amal ibadah kami.  Kami mohon ya Allah,  agar ibadah kami mendapat  Ridho serta Berqah-Mu.

•Ya Allah… Panggil kami untuk  berangkat ke tanah suci,  berangkat ke Baitullah, untuk memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah,  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Kami ingin sujud dan berdoa di Arafah, Kami ingin sujud dan berdoa di depan Ka`bah, kami ingin sujud dan berdoa di Masjidil Haram. Kami ingin sujud dan berdoa di Masjid Nabawi.  Kami ingin berdoa dan ziarah ke makam Rasulullah SAW. Kami ingin ziarah ke makam Sahabat-Sahabatmu Ya  Rasulllah.

•Ya Allah Ya Robb. Jadikan kami orang yang memahami dengan benar ajaran agama-Mu dan mengamalkannya dengan iman dan ikhlas. Jauhkan kami dari segala kebodohan. Jauhkan kami dari kesombongan, jauhkan kami dari perselisihan dan jauhkan kami dari sifat hasut, iri dan dengki serta saling menyalahkan di antara kami.

•Ya Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Kami ingin dekat kepada-Mu ya Allah. Tetapi uang, harta, kesombongan, kekuasaan dan ketamakan, seringkali menganggu kemurniaan tauhid dan niat kami. Maka beri kami keistiqomahan pada kebaikan ya Allah

•Ya Allah Ya Robb, ampunilah segala dosa-dosa kami, dosa ayahanda dan ibunda kami. Ya Allah, kami ini  belum bisa berbakti kepada mereka di dunia ini.  Jasa dan pengorbanan mereka sungguh banyak. Sementara kami tidak bisa membahagiakan mereka. Ayahanda dan ibunda kami, tidak pernah menyusahkan kami. Sebaliknya, malah kami yang selalu susahkan mereka. Banyak peruntah yang kami abaikan. Karena itu, Ya Allah. Jangan siksa  orangtua kami di alam kubur. Lapangkan alam kuburnya dan sinari mereka dengan amal ibadahnya. Jauhkan mereka dari siksa kubur, jauhkan mereka dari siksa api neraka. Masukkan kedua orangtua kami ke dalam surga-Mu. Pertemukan dan kumpulkan kami ya Allah dalam surga-Mu.

• Ya Allah, Ya Rohman Ya Rohim.. Kepada orangtua kami yang masih hidup. Berilah kesehatan dan keberkahan umur. Kepada saudara-saudara kami yang seiman, sekarang terbaring di rumah atau di rumah sakit. Angkatkanlah penyakitnya. Sehatkan lah jasmani dan rohaninya. Kepada saudara-saudara kami, di negara yang dilanda konflik. Bukalah pintu hati pimpinan dan rakyatnya, jauhkan lah mereka dari permusuhan dan perselisihan

• Ya Allah ya Robb. Berilah kami petunjuk agar selalu berada dalam bimbingan-Mu. Lapangkanlah rezeki kami. Mudahkan segala urusan kami. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa kedua orangtua kami, dosa para guru-guru kami, dosa para pemimpin-pemimpin kami, dosa-dosa anak cucu kami. Jadikan Idul Adha ini sebagai titik tolak meningkatkan semangat ibadah kami ke tingkat yang lebih baik.

Ya Allah ya Tuhan Kami berikanlah kedamaian pada kehidupan kami berbangsa dan bernegara ini, berikan kekuatan hati bersama sama melaksanakan kebaikan kebenaran yang lebih bermanfaat bagi semua masyarakat kami, berikan kami pemimpin yang taat dan takut padaMu ya Rabb, atas rasa amanah yang tinggi mereka akan berlaku adil dan manfaat bagi negeri kami ini.

Ya Allah,berikanlah nilai keikhlasan di hati kami atas setiap qurban yang kami laksanakan ini, jadikanlah setiap pengurbanan itu, menjadi ibadah dan manfaat bagi yang menerimanya.

Ya Allah terimalah amal ibadah dan do’a kami, catatlah kami sebagai orang- orang yang beriman.

Akhir dari khutbah ini sebagai muslim yang taat, termsuk taat pada pemerintahan yang baik sebagai wujud taat kepada Allah Swt maka bersama kita membahu, mewujudkan kota Medan yang Madani, tentram aman, berasama membesarkan Medan sebagai rumah kita bersama dalam bingkai sumatera utara yang bermartabat, menguatkan martabat ke imanan, dan martabat kebangsaan kita di Sumatera Utara ini.

Marikita bersama-sama menjadikan medan sebagai kota masa depan yang multikultural, berdaya saing, humanis, sejahtera dan religius.

Baarakallahu lii walakum fil quranil adzim wanafa’ani waiyyakum bima fiihi minal ayati wadzikril hakim, wa taqabbala minni waminkum tilaawatahu innahu huwal ghafururrahim.

Khutbah II

الله اكبر7 الله اكبر كبيرا والح دلله كثيرا و سبحن الله بكرة و اصيلا لااله الاالله والله اكبر ,الله اكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للمسلمين. اشهد ان لا اله الاالله وحده واشهد ان محمدا عبده ورسوله من لا نبي بعده. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين أما بعد. فيا ايهاالناس اتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون. ان الله ملائكته يصلون على النبي يا ايهاالذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى ال محمد كما صليت و سلمت على ال ابرهيم فى العالمين انك حميد مجيد.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Walhamdulillahirabbil ‘alamin.

Allahu Akbar3X wa lillahilhamd. Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb

IDUL ADHA; UPGRADE PERAN KEHIDUPAN MANUSIA MODERN

Dr. H.M. Syukri Albani Nasution, MA

(Sekr. Umum MUI Kota Medan, Wkl Dekan III Fakultas Syari’ah & Hukum UIN SU)

KESIMPULAN KHUTBAH

  1. Esensi manusia ”liya’buduun” dihadapan khalik, (filosofi labbaik Allahumma..)
  2. Esensi Manusia” Khalifah” peran di dunia ini, memenej, alfurqan, memfilter baik benar dan pantas, meng-adabkan kehidupan, menghilangkan perpecahan (SMS),
  3. Sikap berqurban itu adalah sikap menyembelih sifat kehewanan diri
  4. Sikap berhaji itu tercermin dari wukuf di arafah, i’tibar padang mahsyar yang semua kehebatan tiada guna
  5. Orang berqurban itu adalah orang yang peduli pada kemiskinan, semangat berbagi (watardzuqu man tasyaa’u bighairi hisaab)
  6. Kisah patuhnya ismail pada ibrahim itu, i’tibar bahwa rasa cinta makhluk harus direstui Allah Swt (cerita anak sakit cari obat; cara Allah kabulkan doa)
  7. Orang beriman modern itu Merubah paradigma materialistik- prestisius yang negatif, pengen kelihatan baik di hadapan manusia, tapi hina dihadapan Allah
  8. Merubah paradigma oral truth (kebaikan yang hanya diucapkan), tapi sepi dari keteladanan, sepi dari perbutan baik
  9. Tantangan orang orang beriman itu, bukan baik ketika ramai orang, tapi apakah kita masih berbuat ketika sepi perhatian.
  10. Peran manusia modern itu, mengurangi dan menghilangkan beban orang lain, banyak pesan quran yang sering menyindir manusia tentang kesyukurannya (apala tasykuruun, fabiayyi alaa irabbikuma tukadzziban, wain ta’uddu ni’matallahi laa tuhsuuha)
  11. Peran orang beriman modern itu mengupgrade suasana ibadah, bukan hanya di masjid, tapi keimanan itu dimana mana, manakala semua pekerjaan, kehidupan, nafas dan gerak dihibahkan karena Allah, maka tak akan ada kesalahan yang sengaja, cctv nya Allah bekerja dimana mana
  12. Peran orang beriman modern itu adalah mampu memenej waktunya, sebab yang paling jauh dari kita itu adalah masa lalu, (filosofi wal ashr),
  13. Peran orang beriman modern itu; bekerjanya di dunia, tenaganya Langit. Ikhtiyar dan tawakkal itu teman sejati yang tak boleh berpisah dari kehidupan orang beriman. Kesejatian itu manakala kita di hadian al haya’( rasa malu)
  14. Peran orang beriman itu adalah menguatkan ke ikhlasan, ikhlas itu adalah orang yang mampu mengganti harapnya dari hajat menuju amal dan perbuatan. Terlalu asyik pada kepatuhan, sehingga lupa menuntut pengkabulan.
  15. Atas orang orang yang menguatkan ghirah kehidupannya pada amal baik, maka Allah beri Al Uns, (rasa bahagia dunia yang diganti dengan akhirat)
  16. Peran orang beriman modern itu adalah orang orang yang rsa rindunya pada  Khalik, membuat dirinya malu terlalu berharap pada dunia (cerita nenek sawer)
  17. Ketika dalam shalat kita sebutkan inna shalati… maka pada saat itu interaksi hakikat kita adalah kepada Allah Swt
  18. PR besar orang beriman adalah mengadabkan kembali kehidupan ini, menjaga keutuhan bangsa, persatuan, negeri yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur

Satu tanggapan untuk “IDUL ADHA; UPGRADE PERAN KEHIDUPAN MANUSIA MODERN

  • Agustus 10, 2019 pada 1:41 pm
    Permalink

    Luar biasa, ust. Dr. H. Syukri Albani bisa berbagi ilmu, semoga tulisan ini salah satu contoh berqurban dalam arti luas, semoga yuntafa’ubih. Amin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *