Ibadah Qurban Tingkatkan Nilai Kesetiakawanan Sosial

Banyak hikmah yang didapat dari perjalanan kehidupan Nabi Ibahim AS beserta putranya, Nabi Ismail AS. Selain adanya perintah menyembelih hewan kurban kepada orang-orang mukmin yang berekonomi mampu, anjuran berqurban merupakan wujud kepatuhan dan keikhlasan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.

Hal ini merupakan isi khutbah Al Ustadz Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, MA saat menjadi khatib shalat Idul Adha tahun 2019 di Lapangan Merdeka Medan (10/8/2019) yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Medan. Shalat yang dihadiri ribuan jamaah juga dihadiri Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin, Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution, Kakankemenag Kota Medan H. Impun Siregar, MA serta tokoh masyarakat dan tokoh ulama.

Dalam khutbahnya, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan ini, mengatakan bahwa ibadah kurban ini sarat dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial. Yaitu, terciptanya suatu komunikasi atau dialog, antara Nabi Ibrahim AS dengan putranya, Nabi Ismail AS, sesaat sebelum Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah. Sesungguhnya, dialog itu menanamkan nilai-nilai edukasi, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai kepatuhan, ketaatan kepada Khaliq-Nya.  Selain itu, komunikasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim kepada anaknya, menggambarkan betapa harmonisnya, hubungan antara orangtua dengan anak, atau pun sebaliknya, antara anak dengan orangtua. Inilah potret keluarga Islami yang sebenarnya.

“Ayahandanya, Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail, sama-sama memiliki kadar keimanan yang tinggi dan kuat. Tahan diuji dan tidak goyah dirayu oleh syetan. Demikian halnya dengan Siti Hajar yang berlari-lari kecil (sa`i) antara Shafa dan Marwah untuk mencari sumber air. Hidup dalam keterasingan di gurun tandus dan berbatuan. Inilah potret pengorbanan seorang ibu kepada anaknya,” kata Syukri.

Dilanjutkannya, pelajaran lain yang dapat diambil dari Idul Adha yaitu setiap umat Islam dituntut untuk mengedepankan dialog yang dibungkus nilai-nilai Ukhwah Islamiyah. Nabi Ibrahim AS telah membuktikan betapa pentingnya suatu dialog atau musyawarah sebelum mengambil suatu keputusan. Selain itu, bahwa setiap  umat Islam dituntut untuk mengedepankan dialog yang dibungkus nilai-nilai Ukhwah Islamiyah. Nabi Ibrahim AS telah membuktikan betapa pentingnya suatu dialog atau musyawarah sebelum mengambil suatu keputusan.

“Jika kita tarik dalam konteks kekinian, kita dituntut untuk membentuk keluarga  yang memiliki aqidah dan kadar keimanan yang kuat dan tangguh. Tidak mau menggadaikan  aqidah atau imannya gara-gara mengejar duniawi,” ungkapnya.

Banyak cara Allah menguji ketaatan dan kesabaran seorang hamba. Ada melalui kesenangan. Ada yang melalui penderitaan dan kesengsaraan. Orang kaya dan pejabat negara akan diuji dengan kekayaan dan jabatannya. Orang miskin juga akan diuji atas penderitaannya. Semua makhluk ciptaan Allah akan mengalami ujian dan cobaan, sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing.

Nabi Ibrahim AS telah lulus pada ujian yang diberikan Allah SWT. Beliau mendapat nilai tertinggi dengan judicium luar biasa.  “Kalau kita kaitkan dengan kehidupan kita, apakah kita bisa lulus dalam setiap ujian dan cobaan dari SWT. Padahal jenis dan materi ujiannya tidak sesulit,  apa yang diberikan kepada  Nabi Ibrahim AS?.  Melalui kesempatan terbatas ini, mari kita bentuk dan bina  keluarga kita dengan nilai-nilai ke-Islaman. Menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kita tanamkan  aqidah yang kuat dan tangguh. Memiliki sikap ikhlas, taat dan sabar,” tegasnya.

Terpenting lagi, Syukri mengingatkan unat Islam harus memperkokoh ukhwah Islamiyah, dalam menyikapi suatu perbedaan. Sebab jangan hanya kuat dan kompak dalam gerakan-gerakan sholat, tapi lemah di tengah-tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Terus terang, solidaritas umat Islam sekarang ini kian rapuh. Ibarat buih di tengah lautan. Mudah hancur dihempas ombak ke tengah karang. Mari kita hidupkan ghirah keislaman kita dengan menjaga utuh persatuan dan kesatuan bangsa ini,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *