Hukum Islam Menyelamatkan Isi Dunia Darat dan Laut

Islam Rahmatan Lil Alamin yakni rahmat bagi seluruh manusia bermakna bertujuan menyelamatkan seluruh isi dunia mencakup darat dan laut. Apalagi di wilayah Indonesia yang didominasi oleh kelautan dengan berbagai problematikanya, sehingga diperlukan sikap seorang muslim ikut menjaga kelestarian wilayah maritim.

Hal ini dikatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof Mohd Hatta di acara Penyuluhan Kajian Fikih Kontemporer Kemaritiman oleh komisi Fatwa MUI Kota Medan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah TPI Medan, Selasa (20/8/19). Hadir sebagai narasumber lainnya Wakil Ketua MUI Kota Medan, DR Hasan Matsum dan Paban Tahwiltas Spotmar Latmal 1 Lekol Laut (KH) Irfan Hasibuan.

Dijelaskan Prof Hatta, di dalam Al Quran terdapat 32 ayat yang membicarakan tentang laut atau kemaritiman dan merupakan hukum Islam yang jadi ketentuan dan tidak dapat dirubah. Sehingga sikap seorang muslim tidak melakukan perusakan dan pencemaran wilayah kelautan, mengambil manfaat dan mendayagunakan hasil alam kelautan dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan.

Selain itu, lanjut Prof Hatta, manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan menggali rahasia dibalik ciptaan Allah serata dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam termasuk pada wilayah kelautan.
“Bumi kita ini didominasi oleh kelautan dengan berbagai problematika yang tidak seimbang dengan SDM belum lagi dengan ancaman-ancamannya sehingga kondisi kelautan kita tidak sekuat dengan negara lain,” katanya.

Letkol Laut (KH) Irfan Hasibuan dalam materinya konservasi wilayah maritim dalam bingkai wawasan nusantara memaparkan, negara kesatuan Republik Indonesia berada diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik terdiri dari 17.504 pulau. Dimana luas laut sekiyar 3,25 juta KM² dan luas daratan sekitar 2,01 juta km².
 
“Laut sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia yakni sumber devisa negara, pengelolaan sumber data laut, jalur pelayaran dan perdagangan, pengaruh perkembangan kehidupan sosial, budaya, pariwisata, kesenian dan pendidikan,” ucapnya.

Sementara DR Hasan Matsum menyatakan, Alqur’an berbicara banyak tentang laut padahal ia sendiri diturunkan di wilayah padang pasir dan hal tersebut merupakan salahsatu kebesaran Allah SWT yang wajib disyukuri.

Sedangkan untuk defenisi ilmu fikih yang berhubungan dengan aktifitas kelautan, dipaparkannya yakni ibadah dimana Thaharah menggunakan air laut, shalat di atas perah. Kemudian Mu’amalah yaitu berburu hewan laut (ikan). Aktivitas   tangkap  ikan   sesuai dengan   Undang-undang   Nomor   31 Tahun 2004 yang diperbarui melalui UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan,   menangani,   mengolah dan atau mengawetkan.

“Untuk itu dalam pemanfaatan sumberdaya ikan ini dibutuhkan pendekatan selektivitas alat tangkap untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya perikanan. Pendekatan selektivitas ini searah dengan prinsip- prinsip   kelestarian   dari   sumberdaya ikan. Dengan demikian, penangkapan ikan secara selektif berarti menjaga kontinuitas kegiatan penangkapan ikan sehingga keberlanjutan sumberdaya ikan benar-benar terjamin,” katanya.

Dalam Al-Qur’an QS. al-Nahl ayat 14, disebutkan bahwa sumberdaya perikanan merupakan anugerah dari Allah menjadi amanah bagi umat manusia sebagai khalifah agar dapat melestarikannya. Kepedulian terhadap kelestarian laut merupakan manifestasi syukur terhadap anugerah yang terkandung di dalamnya tersebut.
“Sebagaimana berburu makhluk laut, jual beli di laut juga pada dasarnya dibolehkan selama tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah mu’malah,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *