Ma’ruf Amin Resmikan Renovasi Gedung MUI Kota Medan

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat Ma’ruf Amin meresmikan renovasi gedung MUI Kota Medan, Kamis (29/8) Jalan Nusantara Medan. Dihadiri Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Wakil Polda Sumut, Pangkosekhanudnas III, Danlantamal I Belawan, Kakanwil Kementerian Agama Sumut, alim ulama, pimpinan ormas dan tokoh masyarakat.

Dalam tausiyahnya, Ma’ruf Amin yang juga Wakil Presiden terpilih, mengaku sampai saat ini masih menjabat sebagai Ketua Umum MUI Pusat sampai nanti dilantik jadi Wapres Oktober mendatang. Untuk itu ia mengajak para ulama berada pada jalur tugas utamanya yakni melaksanakan tanggungjawab keagaman, kebangsaan dan kenegaraan.
“Kita ingin mengajak supaya menjalankan tugas-tugas demokrasi membawa aspirasi dakwah kita harus berada pada kerangka kesepakatan nasional yakni pilar kebangsaan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika,” imbaunya.

Dengan tanggungjawab tersebut, kata Ma’ruf Amin ia yang didampingi istrinya Wury Estu Handayani, harus dilaksanakan berjalan harmonis dan bersinergi tidak boleh berbenturan dengan saling memberi dukungan/kekuatan. Oleh karena itu di Indonesia tidak ada perlu berbenturan antara soal keislaman dan kebangsaan karena semua sudah bisa diselesaikan.

“Makanya MUI mengusung tema Islam yang moderat. Cara berfikirnya tidak tekstual dan liberal. Karena kalau tekstual itu, ukurannya hanya pada teks-teks saja dan jika tidak ada teks maka dianggap tidak Islam. Sedangkan liberal memberi tafsiran bahwa agama hanya dianggap sebagai adonan tanpa batasan,” katanya.

Untuk itu kata Ma’ruf Amin, MUI memiliki tugas yang besar dan berat, sehingga harus didukung oleh kelengkapan, sarana prasarana, infrastruktur oleh tenaga-tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal sehingga bisa melaksanakan tugas-tugas besarnya.

“MUI sebagai lembaga yang menjadi imam umat Islam yang terdiri dari gabungan organisasi Islam di Indonesia. Di MUI boleh ada perbedaan sepanjang berada di wilayah perbedaan. Karena kalau di luar wilayah perbedaan itu namanya penyimpangan. Sama halnya dengan sistem kenegaraan kita ada kesepakatan dan jika berada di luar kesepakatan itu merupakan pemberontakan. Jadi sampaikan aspirasi dakwah, itu dibolehkan asal tidak menyangkut prinsip-prinsip perbedaan yang diatur dalam kesepakatan negara,” tegasnya.

Ma’ruf Amin juga menyinggung soal khilafah yang memang merupakan sistem di dalam Islam seperti halnya kerajaan, republik, amir dan lainnya. Namun, karena Indonesia telah memiliki kesepakatan sehingga disebut negara kesepakatan, maka sistem khilafah tertolak
“Khilafah bukan ditolak tapi tertolak maka dengan sendirinya tidak bisa masuk karena menyalahi kesepakatan,” ucapnya.

Sebelumnya Gubsu Edy Rahmayadi mengatakan, sebagai pemimpin pemerintah (umara) sangat menghargai para ulama. “Sehabis saat dzuhur di Masjid Agung saya langsung bergegas datang ke Gedung MUI Kota Medan ingin mendengar ceramah pak Kiyai Ma’ruf Amin yang sangat kita cintai,” ujarnya.

Edy mengatakan ulama merupakan golongan pertama yang diciptakan Allah SWT di muka bumi.
“Mohon koreksi saya Pak Kiyai setahu saya golongan ulamalah yang pertama diciptakan, kemudian baru umara atau pemimpin,” katanya.

Sehingga, kata Edy pihaknya sangat menaruh hormat kepada para ulama. “Makanya kalau ada oknum ulama yang datang ke ruangan saya, saya tidak pernah terima kalau mau minta petunjuk. Sayalah yang harus mendatangi ulama,” ujarnya.

Edy mengungkapkan golongan ketiga yang diciptakan Tuhan di muka bumi yakni orang kaya dermawan dan golongan terakhir adalah orang fakir miskin.

Tak hanya itu Edy juga memperkenalkan salam khas yang dimiliki masing-masing daerah di Sumatera Utara kepada Ma’ruf Amin.

“Pak di Sumut ini berbeda dengan daerah-daerah lain, kalau Bapak ke Toba salamnya horas, maka jika saya ucapkan horas di ruangan ini dan dibalas horas juga itu pasti orang Toba,” katanya. Di Kepulauan Nias kata Edy juga memiliki salam khas yakni Yahowu, Mejuah-juah dari Karo, Ahoi salam khas Melayu dan Njuah-juah dari Pakpak.

Ketum MUI Kota Medan, Prof M Hatta, menyatakan, gedung kantor MUI Kota Medan ini dibangun dalam tiga tahap yakni dari tahun 2005 dibangun kantor MUI kota Medan bagian belakang atas bantuan Pemko Medan, kemudian tahun 2015 dibangun pula bagian depan dan ditahun 2019 dibangun bagian tengah yang menghubungkan bangunan belakang dan depan atas bantuan dermawan Buddha Tzu Chi, Mujianto yang mengucurkan dana sebesar Rp 2,2 miliar sampai renovasi gedung selesai.
“Saya ucapkan terima kasih kepada beliau yang memberikan perhatiannya kepada sesama, yang merupakan bentuk kolaborasi antara pemeluk agama yang harmonis serta juga para donatur lainnya dan Pemko Medan yang selalu mendukung program MUI Kota Medan untuk keumatan,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *