MUI Medan: Pendidikan Aqidah Wajib Ditegakkan Untuk Menangkal Aliran Sesat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan menghimbau seluruh umat Islam untuk menegakkan pendidikan aqidah pada diri dan keluarganya dalam menangkal timbulnya aliran sesat yang dimurkahi Allah SWT. Karena dengan aqidah, umat hanya mengimani Allah SWT dan meralisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

Hal ini dikatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof Dr Mohd Hatta diacara Penyuluhan Pentingnya Pendidikan Aqidah Dalam Menangkal Aliran Sesat Khususnya di Kota Medan oleh Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Medan, Sabtu (6/9) di aula Kantor MUI Kota Medan. Hadir sebagai narasumber lainnya Ketua PW Muhammadiyah Sumut Prof Dr Hasyimsyah Nasution dan Dosen FITK UIN SU, Dr Mardianto.

Dikatakan Prof Hatta, diantara banyaknya agama di Indonesia, Islam seringkali menjadi sasaran empuk pelecehan dan penghinaan oleh agama ataupun aliran lain. Sehingga banyak yang menganggap bahwa Islam sebagai agama yang dianut umat mayoritas telah berbuat semena-mena dan tidak berlaku adil terhadap kelompok minoritas.

Belum lagi, lanjutnya, saat ini banyak muncul aliran sesat dimana ciri-ciri nya mengaku sebagai Nabi atu Rasul dan biasanya sering mengaku sebagai Nabi Isa agar pengikutnya kebih setia dan membawa ajaran baru bertentangan dengan Al Quran san Hadist.
“Misalnya ada yang menyatakan tidak perlu shalat dan puasa atau kalau shalat cukup 2 kali saja. Ada pula yang berhaji tidak di Mekkah. Ciri khas aliran sesat ini memisahkan diri dari mayoritas Islam dan memiliki masjid sendiri. Untuk itu, agar terhindar dari aliran sesat tetap berpegang teguh pada Al Quran dan Hadist,” imbaunya.

Sementara Prof Hasyimsyah menyatakan, kriteria sesat itu yakni mengingkari salahsatu dari rukun Islam, meyakini dan mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i, meyakini turunnya wahyu setelah Al Quran dan mengingkari otentisitas isi Al Quran serta menghina atau melecehkan para Nabi dan Rasul.
“Kecenderungan sesat itu karena terlalu berlebih-lebihan dalam berfikir dan bertindak karena terlalu liberal. Ciri-ciri nya terlalu mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka meskipun orang itu penganut agama Islam. Untuk itu orang yang tersesat dan menjadi kafir ini perlu dibawa kembali kepada Islam yang sebenarnya,” kata Prof Hasyimsyah.

Dr Mardianto, pendidikan aqidah dimulai dari keluarga dan juga dunia pendidikan pembelajaran di sekolah. Jadi para guru dalam mengenbangkan metode pembelajaran aqidah dengan beberapa model seperti modeling yakni memberi tauladan tentang akidah, coaching memberi bimbingan, scaffolding memberi bantuan dan fading yakni memberi kepercayaan secara bertahap untuk menemukan hakikat tujuan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *