Memahami Hadis Malu

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb

Pak Ustadz yang saya hormati. Beberapa hari lalu, saya mendengar taushiyah seorang ustadz menyampaikan hadis Rasulullah yang isinya, ‘apabila tidak punya malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” Penjelasan ustadz tersebut saat itu cukup singkat sekali. Karena tak ada ruang tanya jawab, saya tidak bisa bertanya. Bisakah saya diberikan penjelasan maksud dari hadis tersebut? Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb

(Ahmad Akbar, Medan Johor)

Jawaban

Wa’alaikumsalam wr. wb

Terima kasih atas pertanyaannya. Hadis tersebut memang benar dan shahih. Untuk perihal menjelaskan maknanya, izinkan saya mengutipnya dari kitab Al-Wafii fi Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah yang ditulis oleh Dr. Musthafa Dib Al-Bugha dan Dr. Muhyiddin Mitsu.

Hadis ini memiliki tiga makna sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. Makna pertama, Kata perintah (amar) bermakna ancaman. Dalam hal ini, Rasulullah seakan-akan bersabda, “Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, lakukanlah perbuatan sesukamu karena Allah akan memberikan balasan yang berat kepadamu.” Kata perintah dalam bentuk seperti ini juga terdapat di dalam al-Qur’an, yaitu ketika Allah berfirman kepada orang-orang kafir, “Lakukanlah perbuatan sesuka kalian.” (QS. Fushshilat: 40)

Makna kedua, kata perintah (amr) bermakna memberikan kabar. Hal ini setali tiga uang dengan sabda Rasulullah Saw, “Maka hendaklah ia menempati posisinya di neraka.” Dengan demikian, makna hadis ini menjadi, “Bahwa siapa yang tidak malu melakukan perbuatan apa pun sesukanya, maka hal yang menjadi penghalang untuk melakukan perbuatan buruk adalah rasa malu. Dan orang yang tidak mempunyai rasa malu, ia akan tenggelam dalam segala perbuatan keji dan mungkar.”

Makna ketiga, kata perintah (amr) bermakna bolehnya melakukan perbuatan tersebut (ibahah). Dengan demikian, makna hadis tersebut adalah “Jika kamu tidak merasa malu untuk melakukan sesuatu perbuatan baik kepada Allah maupun kepada manusia, maka lakukanlah perbuatan itu, karena hal itu dibolehkan.

Makna mana yang paling kuat? Jawabannya adalah makna yang pertama. Sebab malu adalah salah satu warisan para nabi. Sampai-sampai Rasulullah Saw pernah bersabda, “Sifat malu kepada Allah adalah, ketika kamu menjaga kepalamu dengan menjaga apa yang dipikirkan, ketika kamu menjaga perut dengan apa yang dimakan dan dikandungnya.” Artinya, malu adalah awal tonggak sikap wara’. Wallahua’lam bish shawab. Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb

Penulis: Drs. H. Burhanuddin Damanik, MA

Ketua Komisi Ukhuwah dan Hubungan Umat Beragama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *