Salam Lintas Agama “Umat Harus Melihara Iman”

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof. H. Mohd. Hatta menegaskan, himbauan para pejabat tak memakai salam pembuka semua agama saat sambutan resmi memang harus dijalankan bagi umat Islam dalam memelihara iman nya kepada Allah SWT.

“MUI Medan sudah pernah membahas ini dari hasil muzakarah yang menyatakan haram hukumnya mencampur adukkan nilai-nilai kebenaran menyangkut masalah akidah. Dan himbauan MUI Jawa Timur memang wajib diikuti bagi umat Islam yang tidak ingin merusak hubungannya dengan Allah SWT,” ujarnya.

Diketahui MUI Jawa Timur mengimbau para pejabat tak memakai salam pembuka semua agama saat sambutan resmi. Imbauan ini terlampir dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori.

Menurut Prof Hatta, umat Islam harus pandai-pandai memilih mana yang menjadi simpati, empati dan hal-hal yang merusak hubungan dengan Allah SWT. “Kita berharap semua umat Islam memelihara imannya. Tapi kalau tidak mau ya silahkan saja karena itu merupakan himbauan,” katanya.

Diakui Hatta, sekarang ini ada fenomena dan tren para pejabat dari lingkungan muslim setelah mengawali ucapan salam secara Islam selalu diikuti dengan memberi salam agama lain. Padahal umat harus tahu mana yang membatalkan aqidah karena didalam ucapan salam merupakan memuji Tuhan ajaran agama lain.
“Ini tidak dibenarkan bagi seorang muslim meski untuk yang namanya kerukunan umat beragama,” jelasnya.

Dipaparkannya, salam agama adalah doa yang diajarkan masing-masing agama menurut tatacara yang telah ditetapkan. Dan bagi seorang muslim dilarang berdoa menurut tata cara yang ditetapkan oleh agama non Islam.
“Kalau dengan alasan membangun toleransi, tidak boleh mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Karena dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah. Jadi MUI akan menyikapi ini untuk mengeluarkan fatwa agar syariat jangan terkontaminasi dan umat jangan salah lagi,” tegas Hatta.

Namun, jika nantinya ada pejabat yang masih menggunakan salam semua agama, maka tidak akan mempermasalahkan hal itu.

“Itukan sifatnya himbauan, kita sebagai payung ummat agar melakukan sesuatu dengan baik, apa yang baik itu, jangan mencampurkan aqidah orang lain dalam aqidah kita, sebagai muslim, murka Allah sama kita kalau kita memuji tuhan orang lain,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *