Jadikan Shalat Suatu Kebutuhan

Yuni Naibaho SSos 

Anggota Komisi Informasi dan Komunikasi

“Shalat bukan beban tapi meringankan beban”. “Shalatlah kamu sebelum dishalatkan”. “Kerja itu cuma selingan sambil nunggu waktu salat”. Kalimat itu sering sekali terlihat di depan-depan Masjid untuk mengajak dan mengingat umat muslim melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT. Memang harus terus diingatkan, karena masih ada mereka yang mengaku muslim tapi masih bermalas-malasan menjalankan shalat, bahkan ada yang tidak pernah shalat sama sekali. 

Kenapa mengerjakan shalat wajib lima waktu sehari itu terasa sulit? Atau bahkan sering menjadikan beban?. Padahal dengan rakaat yang sudah diatur pada masing-masing shalat wajib itu tidak memerlukan waktu berjam-jam mengerjakannya. Kenapa lebih betah kita di depan handphone atau komputer bermain games dan lebih tahan kita shoppinh, ngobrol panjang dengan teman-teman, sampai melupakan bahkan atau dengan sengaja meninggalkan shalat. 

Shalat adalah kewajiban, salah satu rukun Islam paling utama setelah seseorang mengikrarkan dua kalimat syahadat. Siapa yang mengaku muslim namun tidak menegakkan shalat maka berarti ia telah merobohkan agama Islam.

Shalat secara bahasa berarti doa, sedangkan menurut istilah fiqih, shalat adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhir dengan salam. Dengan shalat kita bisa berkomunikasi dengan Allah SWT. Allah SWT telah memberitahu kepada kita bahwa Dia menyediakan waktu reguler bagi para hamba-Nya untuk datang kepadanya lima waktu dalam sehari. Datang berkomunikasi dengan Allah tentu tak sama dengan berkomunikasi dengan manusia. Allah SWT telah memberitahu bagaimana cara berkomunikasi dengan-Nya dengan apa yang disebut dengan shalat. 

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat [mu], ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu [sebagaimana biasa]. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa: 103). 

“Perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan sholat, dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS Thaahaa ayat 87). 

Shalat itu adalah untuk kebaikan manusia. Allah SWT mengharuskan manusia shalat untuk kebaikan manusia itu sendiri, bukan untuk Allah SWT. Melaksanakan shalat akan begitu mudah jika kita mengenal dan mencintai Allah SWT dari oleh dan siapapun. Diibaratkan saat kita ingin berkenalan dengan orang, maka yang kita lakukan pertama-tama 

 pasti ingin tahu namanya, alamat atau tempat tinggalnya. Kemudian nomor teleponatau apa pun yang memudahkan kita berkomunikasi dengannnya. Mengapa berkomunikasi penting? Karena kalau hanya berkenalan sekilas, sekedar tahu namanya tanpa menjalin komunikasi lagi biasanya akan mudah lupa dan dikemudian hari merasa tak pernah berkenalan dengannya. 

Nah, Allah SWT itu lebih dari sekedar penting, tapi sangat penting. Setidaknya karena kita sangat berkepentingan untuk menjalin komunikasi dengan-Nya. Maka menjadi jelas bahwa kita harus mengenal-Nya lebih dekat. Kita harus tahu nama Tuhan yang sebenarnya, minta alamatnya, minta kartu namanya, dan sering menghubungi-Nya agar kita akrab dengan-Nya. Kalau kita dekat dengan Allah SWT tentunya akan memudahkan kita dalam segala hal. Karena Dia-lah yang mengatur segalanya.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan [yang hak] selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha:14)

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS Asy Syura’ 51). 

Setelah kita kenal dengan Allah SWT, kemudian datang rasa cinta maka akan hadir rasa butuh berkomunikasi terus dengan Allah SWT. Rasa butuh dengan Allah SWT membuat kita ingin selalu mengenal dan dikenal Allah SWT. Jika tidak mengerjakan shalat, akan hadir rasa hampa dan bersalah di hati karena Allah SWT Maha Melihat segala yang dilakukan hambaNya. Tidak shalat, maka kita akan merasa uring-uringan menjalankan aktivitas sehari-hari, ibarat kebutuhan makan, minum, istirahat yang harus kita lakukan demi kelangsungan hidup, maka shalat juga kebutuhan hati kita agar Allah SWT selalu bersama kita. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al Baqarah: 153). 

Sabar dan sholat merupakan kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bersabar dari cobaan dunia baik dari yang menyenangkan maupun yang tidak dengan menjadikan sholat sebagai penolong karena di dalamnya penuh berisi doa dan dzikir kepada Allah SWT.

Memang untuk bersabar dan menjadikan solat sebagai sarana memohon pertolongan kepada Allah tidaklah mudah. Bahkan dalam mengerjakan shalat yang tidak memerlukan waktu lama tapi mempunya manfaat besar itu, terasa berat dilakukan karena manusia 

lebih didominasi oleh nafsunya. Sehingga untuk tetap stabil berada di posisi aman dalam beribadah itu tidak gampang, karena hati manusia sangat mudah digoda. 

Hati akan selalu berubah-ubah tidak tetap. Terkadang hati ini lembut, terkadang sebaliknya hati mengeras. Terkadang hati ini bercahaya dan terkadang hati ini gelap. Terkadang hati begitu tawadhu’ dan terkadang berubah angkuh. Suatu saat hati itu sabar, di waktu yang lain hati tak sabar. Suatu waktu hati ini merasa tenang, tapi suatu kali yang lain hati merasa bingung. Perubahan hati sangat cepat dan terkadang tidak terkendali. Hati bisa merasakan tentram saat bersama Allah SWT, tapi hati juga merasa resah ketika menghadap Allah SWT karena ia merasa banyak dosa saat menghadap-Nya.

Meskipun hati selalu berubah, ada hal yang tidak boleh berubah, yaitu ketaatan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya. Iman dan taqwa jangan sampai berubah-ubah, karena keduanya pilar kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat kelak.

Diperlukan sikap istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT. Caranya dengan berusaha untuk tidak melenceng dari jalur, kita juga harus berdoa karena kedua hal itu tidak dapat dipisahkan. Kita berharap Allah SWT berkenan memberikan ketetapan iman, ketaqwaan, keikhlasan, dan berpedoman dengan Al Quran dan Sunnah karena dengan ketetapan hati pada hal-hal ini, merupakan modal awal untuk dapat selalu bersama Allah SWT.“ . (HR. Muslim no. 2654). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *